Young Gen

Tak Miliki Sekretariat, Komunitas Urban Sketchers Bali Langsung Bertemu ‘On The Spot’

Urban Skecthers Bali itu harus bisa gambar cepat dan tak boleh menggambar di rumah. Harus dalam tempo singkat, karena sket berbeda dengan melukis.

Editor: gunawan
ist
Komunitas Urban Sketchers Bali mengadakan workshop sketsa dengan cat air di Kumpul Coworking, Rumah Sanur beberapa waktu lalu. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Luh De Dwi Jayanthi

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Komunitas Urban Sketchers Bali mengadakan workshop sketsa dengan cat air di Kumpul Coworking, Rumah Sanur, Denpasar beberapa waktu lalu.

Workshop ini rutin dilakukan dengan tema yang berbeda, setiap empat kali pertemuan anggota komunitas.

Rudy Ao, pendiri komunitas ini mengatakan, selain cat air, pernah juga mereka latihan menggunakan pensil dan tinta. Workshop sehari ini sebagai tempat bertukar informasi yang menghadirkan narasumber dari master pelukis.

Anggota dari Urban Sketchers Bali ini terdiri dari berbagai latar belakang ilmu, seperti desain grafis, arsitek, teknik sipil, landscape hingga desain interior. “Jumlah mereka sekitar 40-50 orang dan biasa ngumpul setiap hari sabtu,” ujar Rudy saat ditemui Tribun Bali, Rabu (6/1/2015).

Rudy mengatakan, sketsa bisa juga dibuat menggunakan cat minyak atau cat acrylic, namun pakai cat air paling sering dipakai, karena bisa selesai lebih cepat. “Tak ada yang jadi guru, tapi kalau ada beberapa yang bagus ya saling ngajarin,” terangnya.

Selain workshop, ada juga pameran, diundang mengisi acara, atau sket wajah pemain musik. Urban Skecthers  Bali itu harus bisa gambar cepat dan tak boleh menggambar di rumah. Harus dalam tempo singkat, karena sket berbeda dengan melukis.

Para anggota sering berkeliling ke sudut kota untuk menggambar sketsa benda hidup maupun mati. “Kami muter-muter, pertama kali itu di Bajra Sandhi. Yang dilukis itu tidak harus Bajra Sandhi, tapi tukang bakso juga boleh,” ungkap Rudy yang membangun komunitas ini sejak 2012.

Menggambar sketsa ini merekam seperti kamera tapi pakai gambar pensil. Melaporkan, mengambil, merekam yang harus disertai dengan tulisan. “Kami bisa laporkan cuaca lagi panas, kita kepanasan saat gambar. Jadi mendeskripsikan suatu peristiwa melalui gambar dan tulisan,” ujarnya.

Komunitas ini juga sempat ke Simpang Siur. Mereka selama satu jam harus bisa merekam suasana secara keseluruhan.

“Ya gitu kalau di luar, bisa kepanasan, bisa juga kehujanan. Kalau lagi hujan ya berhenti dulu lah, atau kadang-kadang berteduh di bawah pohon,” ujar Rudy.

Urban tak hanya khsusus untuk perkotaan, tapi lebih ke masyarakat. “Kami juga ke Tanah Lot, Nusa Dua dan Lovina. Kami lebih senang ngumpul, ngobrol dan do something. Jadi kami bikin menggambar itu mengasikkan karena gambar sendirian jadi malas,” terang Rudy.

Komunitas ini tak memiliki sekretariat, sehingga saat berkumpul langsung on the spot. “Kami langsung bertemu di lokasi, ya kecuali kalau lokasinya jauh kami berangkat bareng,” kata Rudy.Teman-teman yang ada di komunitas ini dapat sering ketemu dan bisa meningkatkan skill.  

Kalau sket itu biasanya sudah punya kemampuan dasar. “Perspektif, proporsi, nentuin titik hilang sehingga gambar itu bagus,” ulasnya.

Anggota dalam komunitas ini, biasanya untuk anak-anak baru, akan diberi tips dan trik. “Mengajar itu tak bisa secara lisan, tapi harus sambil workshop agar bisa langsung dipraktikkan” ujarnya.(*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved