Young Gen

Mahasiswa Kimia Unud Mengabdi Sembari Meneliti di Masyarakat

Ada 140 mahasiswa Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana Bali yang melakukan Bakti Ilmiah Mahasiswa (BIM)

Editor: gunawan
Tribun Bali/Luh De Dwi Jayanthi
Mahasiswa Jurusan Kimia, FMIPA, Unud bersiap melakukan kunjungan ke Pabrik Ekstractor dan Simantri Lembu Nadi di Pantai Lepang, Banjarangkan, Klungkung dalam Bakti Ilmiah Mahasiswa, Rabu (13/1/2016) 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Desir angin pantai menyejukkan suasana wantilan Pantai Lepang, Dusun Lepang, Desa Takmung, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Rabu (13/1/2016). Ratusan mahasiswa tampak berteduh di dua tenda pleton berwarna hijau tua yang berdiri tegak di sebelah timur dan selatan wantilan.

Ada 140 mahasiswa Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana Bali yang melakukan Bakti Ilmiah Mahasiswa (BIM) di sekitar Pantai Lepang. Kemah tahunan ini mengambil tema Mewujudkan Generasi Kimia yang Berkarakter Ilmiah, Kompetitif dan Mampu Berperan Nyata dalam Masyarakat yang berlangsung dari 12-14 Januari 2016.

Ketua Panitia BIM, Miftakul Sururi mengatakan kegiatan ini merupakan bukti dari penerapan Tri Darma Perguruan Tinggi yang ketiga yaitu pengabdian masyarakat. Ia mengatakan Pantai Lepang dipilih agar memberikan nuansa baru.

“Kalau tahun-tahun sebelumnya pernah di Gianyar, Badung dan Denpasar. Nah tahun ini kami memang mencari lokasi di Klungkung,” ucap Ruri. Pantai Lepang dipilih karena dekat dengan pabrik produk bahan alam dan ada program Simantri Lembu Nadi dari desa.

Acara kali ini memang difokuskan untuk pengabdian masyarakat, menggali permasalahan yang ada di sana dan mengemasnya dalam bentuk proposal penelitian dalam bentuk Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Keringat bercucuran tampak jelas di wajah Ruri pukul 19.00 Wita. Ia masih sibuk memperbaiki lampu yang rusak sehingga belum sempat mandi. “Ya biarin yang lain mandi duluan. Kamar mandi cuma ada dua, masih antre, he he,” ungkap Ruri sambil menunjuk lokasi kamar mandi.

Ruri, sebagai ketua panitia juga ikut dalam kelompok pembuatan proposal penelitian BIM. Ada 16 kelompok, dan ia juga ikut dalam salah satu kelompok itu.“Kami satu kelompok berlima, satu angkatan 2014 dan 2013 dan tiga dari angkatan 2015. Karena adik kelasnya dekat sama saya, ya saya diajak terus saya mau saja,” tutur Ruri dari angkatan 2013. Ia mengaku tidak merasa dibebankan antara menjadi ketua dan ikut membuat proposal, karena ini memang wajib.  

Sesekali, adik kelas yang satu kelompok proposal dengannya datang untuk menanyakan revisi proposal mereka. “Kak, judul proposalnya diubah kata bapaknya, kakak ubah ya. Harus ada produk biar proposalnya kuat dijadiin PKM,“ ujar seorang adik kelasnnya di sela-sela Tribun Bali  mewawancarai Ruri.

Ruri saat itu tampak memberikan sedikit saran ke adik kelasnya itu. “Gini, awalnya kami sudah bikin proposal tentang pembuatan nugget dari daun pepaya. Tapi ditolak oleh dosen, nah setelah kunjungan ke Pabrik Ekstractor, kami dapat ide lagi, ya ini masih tahap revisi,” tutur Ruri menjelaskan kembali yang disampaikannya ke adik kelasnya itu.

Ia bercerita awalnya ingin mengangkat permasalahan dari Simantri sana karena ada pengaplikasian adsorben. Ruri tertarik dengan itu. Tapi setelah berdiskusi dengan anggotanya, ia mengalah karena dari lima orang, ternyata empat memilih mengambil bahan observasi dari pabrik bahan alam.

“Saya ingin permasalahan yang ada di desa ini, kemudian saya buatkan proposal kegiatan. Setelah itu saya ikutkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa. Kalau nanti dapat dana, lalu penelitian berhasil, maka hasilnya kami kembalikan untuk membangun desa,” harap Ruri.

Ruri juga berharap dari kegiatan ini, mahasiswa menjadi lebih dekat dengan permasalahan yang ada di masyarakat agar terjadi korelasi antara hasil penelitian dan kebutuhan masyarakat.(*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved