Amokrane Sabet Tewas Ditembak di Bali
Jenazah Polisi yang Gugur Diserang Amokrane Diarak Warga Sejauh 2,5 Kilometer
Jajaran kepolisian telah berbaris rapi dalam menyambut peti mati almarhum yang sudah terlilit bendera Merah Putih.
Penulis: I Dewa Made Satya Parama | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
"Waktu kecil pengen jadi polisi karena melihat ajik," terangnya.
Namun, seiring bertambahnya usia anak kedua dari tiga bersaudara ini justru ingin menjadi seorang chef.
"Enggak tahu kenapa sekarang malah pengen menjadi seorang chef, meskipun belum pernah masakin ajik semasa hidupnya," tutur remaja yang akan melanjutkan sekolahnya di SMK PGRI 4 itu.
Remaja yang mengenakan kaca mata hitam saat mengikuti upacara ngaben itu mengenal sosok ayahnya sebagai pria yang baik dan kuat.
"Ajik orangnya baik. Dia orang yang kuat," kenangnya.
Persiapan upacara ngaben almarhum dilakukan sejak pukul 7.00 Wita.
Prosesi dimulai dengan menyiram atau memandikan tubuh jenazah.
Setelah melakukan proses adat oleh keluarga, jenazah pun diserahkan ke pihak kepolisian untuk digelar upacara kebesaran polri.
Iring-iringan keluarga beserta anggota kepolisian pun bergerak dari rumah duka menuju setra.
Jenazah diarak warga menggunakan bade dengan menempuh jarak 2,5 km.
Sesampainya di setra, jajaran kepolisian telah berbaris rapi dalam menyambut peti mati almarhum yang sudah terlilit bendera Merah Putih.
Upacara kebesaran untuk almarhum pun dipimpin oleh Kapolda Bali, Irjen Pol Sugeng Priyanto, sebagai inspektur upacara.
Satu per satu jajaran tinggi kepolisian menaburkan bunga sebelum jenazah diaben oleh pihak keluarga.
Sebagai rasa terima kasih atas jasa-jasa almarhum Sudi, bendera Merah Putih yang sempat dibalut pada peti mati almarhum dikembalikan ke pihak keluarga. (*)