Dharma Wacana
Pilgub Bali 2018: Pemimpin Boleh Berganti, Tapi Kemanusiaan akan Tetap Hadir
Dalam konsep keberagamaan secara Hindu, kita dituntun dalam dua sastra, yakni Adyatmika Widya dan Logika Widya.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sebab karena ketidakpahaman akan sifat-sifat inilah sering timbul pertikaian antar timses.
Dalam hal ini, para sulinggih tentunya memegang peranan strategis. Sebab sulinggih biasanya memiliki ribuan sisya atau dalam bahasa politik disebut dengan pengikut fanatik.
Apakah sulinggih dibenarkan mengarahkan sisya-nya untuk mendukung salah satu kandidat?
Kita tidak bisa pungkiri, ikatan Siwa (sulinggih) dengan sisya (murid) ikatan emosionalnya sangat tinggi.
Akan tetapi, dalam menentukan arah pilihan, sangat salah jika seorang sulinggih mengutamakan ego.
Artinya, mengarahkan sisya-nya untuk memilih calon pemimpin yang satu klan atau kandidat itu merupakan sisya Sang Sulinggih.
Sulinggih harus berpikir lebih maju dari masyarakat secara umum.
Sulinggih harus melihat potensi seorang kandidat, apakah dia benar-benar mampu mengejawantahkan setiap programnya saat terpilih.
Sebab, jika salah pilih atau ternyata pemimpin yang dimenangkan Sang Sulinggih itu tidak mampu menjalankan tugasnya sesuai harapan, berarti sulinggih itu ikut mendorong masyarakat ke lembah penderitaan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/rai-mantra_20180119_112714.jpg)