Tokoh Puri Agung Denpasar Beberkan Untuk Bisa Menari Legong Lasem Butuh Waktu Latihan Setahun
Tiga orang anak menari di atas panggung. Gerak lincah tangannya mengikuti alunan gambelan dari sound sistem.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ady Sucipto
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tiga orang anak menari di atas panggung. Gerak lincah tangannya mengikuti alunan gambelan dari sound sistem.
Terlihat pula sledetan matanya seperti tatit. Begitulah sedikit gambaran festival Legong Lasem di Puri Agung Denpasar.
Menurut keterangan seorang tokoh Puri Agung Denpasar, AA Ngurah Wira Bima Wikrama, ada 159 orang penari Legong Lasem mengikuti festival yang diadakan oleh Puri Denpasar bekerjasama dengan Pemkot Denpasar ini.
"Ini festival keempat dalam rangka hari jadi Kota Denpasar dan hari jadi Keraton Denpasar, karena HUT-nya diambil dari berdirinya Puri Agung Denpasar. Pesertanya ada 53 kelompok masing-masing kelompok ada 3 orang sehingga total ada 159 orang penari legong," katanya ketika ditemui diselasela acara, Minggu (25/2/2018) siang.
Pesertanya terbuka untuk umum se-Bali dengan catatan masih duduk di sekolah dasar.
Untuk persiapan acara ini sudah dilakukan sejak 1 tahun.
"Selasai acara, besoknya persiapan untuk tahun depan, mulai dari anggaran kemudian melatih anak-anak untuk tampil tahun depan. Karena latihan legong tidak cukup 6 bulan," katanya.
Dalam latihan legong, hal pertama yang dilakukan yaitu membuat condong selama enam bulan, setelah itu baru dilatih legong.
Kalau latihan dari nol minimal membutuhkan waktu 1 tahun untuk menguasai tari legong.
Ia juga memberikan alasan kenapa pesertanya hanya untuk siswa SD.
"Kenapa SD saja? Karena legong kraton lasem ini adalah tari ibu. Artinya sebagian besar gerak tari bali ada pada tari legong lasem ini. Itu sebabnya sejak dini mulai mempelajari tari dasar ini untuk mempelajari tari yang lain," ujarnya.
Menurutnya, untuk bisa mempelajari tari yang lain tentu sedini mungkin mereka harus belajar Tari Legong Lasem ini.
"Kalau tiba-tiba mempelajari tari lain tidak dengan mempelajari tari ini, maka setengah-setengah jadinya. Agem, tandang, tangkep, tangkisnya kurang bagus makanya sedini mungkin harus belajar legong," imbuhnya.
Alasan kedua karena anak-abak SD lebih mudah dibentuk ketimbang yang sudah remaja.
Pinggangnya masih lentur, kalau disuruh ngagem masih bisa karena masih luwes dan masih bisa dibentuk.