Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

serba serbi

Jadi Wetangan Mebakar Dalam Pentas Calonarang, Suwitna Siap Tampil Yang Terbaik

Ribuan masyarakat Bali khususnya Tabanan hadir di Banjar Temuku Aya, Desa Tanguntiti, Selemadeg Timur,menyaksikan pementasan calonarang

Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Alfonsius Alfianus Nggubhu
Tribun Bali/Prasetya Aryawan
Ketut Suwitna sebelum pementasan 

TRIBUN-BALI, TABANAN - Ribuan masyarakat Bali khususnya Tabanan hadir di Banjar Temuku Aya, Desa Tanguntiti, Selemadeg Timur, Tabanan, untuk menyaksikan pementasan calonarang yang berbeda dari biasanya.

Termasuk I Ketut Suwitna yang menjadi watangan mebakar di pementasan Calonarang, menegaskan telah siap melaksanakannya, Selasa (24/4/2018) tengah malam.

Dia mengakui sejumlah persiapan untuk menjadi watangan sudah dilakukan dalam kurun waktu tiga bulan termasuk mempelajari ajian geni astra yakni menjadi watangan mebakar.

"Untuk persiapan spesial saya tidak ada, intinya saya yakin dan pasrah saja. Pokoknya saya ingin menampilkan yang terbaik, dan rasa khawatir pun saya tidak ada," ujar Suwitna saat dijumpai sebelum pementasan.

Dia menegaskan, bahwa pementasan ini bukan ajang pamer atau gaya-gayaan melainkan pentas seni calonarang yang lain daripada yang lainnya.

"Saya tidak mau dianggap ngedenangan kawisesan (memperlihatkan kesaktian), tapi hanya melestarikan seni dan budaya Bali yang sudah ada sejak dahulu," tegasnya.

Disinggung mengenai kendala yang dihadapi sebelum pentas, Suwitna pun mengakui memang sempat mengalami gangguan secara mistis namun tidak terlalu ektrem.

Selain itu, juga sempat mengalami kondisi yang tidak fit atau drop ketika usai latihan.

Pria yang saat ini sudah dikaruniai dua anak ini pun menyebutkan sempat gagal saat melakukan latihan, namun tidak hingga melukai tubuhnya.

Dia melanjutkan, pada pertama kali latihan, dia sempat dibakar selama sepuluh menit, kemudian latihan kedua sempat bertahan selama 5 menit.

"Selama proses latihan memang sempat gagal tapi tidak kenapa tidak sampai lecet atau melukai diri saya," ungkapnya.

Suwitna kembali mengungkapkan, selama proses latihan yang dirasakan adalah tubuh seperti terkunci atau tidak bisa digerakan namun, tetap mendengar suara di sekitar saat itu.

Suwitna menceritakan, ide awal untuk melaksanakan pementasan ini adalah dari melihat pementasan calonarang yang dirasa biasa-biasa saja. Sehingga muncul pemikiran untuk membuat pementasan yang berbeda dari biasanya.

Hal itu juga berdasar pada pementasan calonarang yang ada di Klungkung.

Pementasan di Klungkung tersebut juga menjadi pemantik untuk merancang pementasan ekstrem ini.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved