Bedah Buku Bir Bali Sekaligus Peringati 11 Tahun Meninggalnya Made Sanggra
Bedah buku ini juga sekaligus sebagai peringatan 11 tahun meninggalnya Made Sanggra.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bertempat di Penggak Men Mersi, Kesiman, Denpasar, Rabu (20/6/2018) dilaksanakan diskusi sekaligus peluncuran buku sastra berbahasa Bali dengan judul Bir Bali karya sastrawan Made Sanggra.
Bedah buku ini juga sekaligus sebagai peringatan 11 tahun meninggalnya Made Sanggra.
Made Sanggra merupakan pengarang kelahiran Sukawati Gianyar tahun 1926 dan meninggal 20 Juni 2007.
Menurut anak kedua dari Made Sanggra yaitu, Made Suarsa sang ayah memang telah memiliki hobi menulis sejak kecil.
Setelah menjadi pejuang atau gerilyawan Made Sanggra mendapatkan banyak ide yang bisa ditulis.
"Bapak saya hobi menulis sejak kecil. Biasa mengarang, jadi pejuang atau gerilyawan sehingga sangat banyak momen yang bisa dituliskan," katanya.
Menurut Suarsa, sebagian besar kehidupan ayahnya dilewati di tengah hutan sebagai gerilyawan.
Selama menjadi gerilyawan banyak ide cerita yang mengendap dalam otaknya.
"Bapak saya mengingat kejadian yang dialami selama berperang. Setelah Indonesia merdeka baru dikeluarkan semua dalam bentuk tulisan," imbuh Suarsa.
Salah satu masterpice dari Made Sanggra yang terkenal yaitu cerpen dengan judul Ketemu ring Tampaksiring dan pernah menjadi juara tahun 1970.
"Ketemu ring Tampaksiring lebih banyak fiksi dan ada faktanya. Ada fakta Belanda ada di sini dan dengan kekuatan imaginasi maka lahirlah karya besar itu. Fakta ditambah imajinasi hasilnya karya beliau. Kekuatan imaginasi luar biasa," katanya.
Awalnya Made Sanggra menulis dalam Bahasa Indonesia dengan kumpulan puisi berjudul Angin Senja.
Setelah itu Made Sanggra beralih menulis ke sastra Bali modern.
"Beralih ke Bahasa Bali alasannya karena sastra Indonesia sudah banyak yang menggeluti. Sastra Bali tersebut termasuk menular ke saya sendiri karena bapak mengingatkan sastra Indonesia sudah banyak yang menulis dan sastra Bali yang jarang digeluti itu pesan bapak," kata Suarsa mengakhiri pembicaraannya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/bedah-buku_20180620_150132.jpg)