Liputan Khusus
Sejarah Lahirnya Perguruan Silat Bakti Negara Hingga Torehkan Prestasi Mengagumkan Ini Bagi Bali
Perguruan silat khas Bali inilah yang berhasil mengantarkan tiga putra putri Bali meraih medali emas dalam ajang Asian Games 2018.
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Ady Sucipto
Akulturasi
Tengklung sebetulnya sudah mulai tumbuh di Bali sejak masa-masa kerajaan sebagai dampak dari akulturasi budaya India, Cina, termasuk juga pengaruh Majapahit yang masuk ke Bali.
Sebelum menjadi sebuah organisasi, dan dipertandingkan dalam ajang olah raga resmi, tengklung sebetulnya masih menjadi sebuah seni gerak bela diri.
Pria yang akrab disapa Gusman ini mengatakan, untuk menumbuhkan seni bela diri ini, para pendahulu yang bergerak di bidang ini kemudian memutar otak agar bisa menyatukan seni pencak silat.
Akhirnya pada 18 Mei 1948, berbagai sebutan yang menamai seni bela diri itu kemudian disepakati dengan nama pencak silat.
"Ini untuk menyatukan berbagai istilah yang berbeda. Istilah pencak silat baru digunakan sejak 1948 sejak Organisasi IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) didirikan oleh Mr Wongso Negori di Surakarta. Tujuannya untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan dari pencak silat itu sendiri," jelas lelaki asal Banjar Tampak Gangsul yang saat ini menetap di Br. Negari Kelurahan Sading, Badung itu.
Setelah adanya organisasi nasional yang menaungi pencak silat kala itu, seni tengklung pun semakin berkembang.
Di Bali, sejumlah pesilat menggelar pertemuan-pertemuan untuk membuat sekaa atau kelompok perguruan silat.
Waktu itu, para pendekar silat seperti Bagus Made Rai Keplag, AA Rai Tokir, AA Meranggi, Sri Empu Dwi Tantra, Ida Bagus Oka Dewangkara, dan Ida Bagus Mahadewi kemudian bersepakat mendirikan sebuah perguruan.
Karena semangat mereka kala itu adalah untuk mengisi dan mempertahankan kemerdekaan, maka disepakatilah perguruan yang dibentuk bernama Bakti Negara pada 31 Januari 1955.
"Jadi pencak silat itu digunakan oleh para pendiri kita untuk berbakti kepada negara. Mereka berharap silat ini mampu menumbuhkan rasa nasionalisme dan mengunakan silat untuk membangun bangsa. Kedua sebagai bagian dari pendidikan karakter, sehingga lahir pemuda yang berjiwa ksatria," tutur Gusman.
Pria yang sudah menjadi sekretaris umum Bakti Negara sejak tahun 1998 ini menjelaskan, setelah IPSI dibentuk, para pengurus IPSI Pusat dalam rangka memajukan pencak silat di Indonesia, dan untuk semakin menarik minat anak muda terhadap pencak silat, berinisiatif melakukan modernisasi pencak silat dalam aktivitas olahraga prestasi, dimana pencak silat dipertunjukkan dan dipertandingkan di hadapan publik dalam bentuk olahraga prestasi.
"Selain itu untuk menekan ekspansi bela diri asing yang masuk ke Indonesia waktu itu," tutur pria yang pernah mendapatkan Juara 1 dalam kejuaraan Pencak Silat di Hanoi, Vietnam, tahun 1996 tersebut.
Cabang Prestasi
Saat itu, para pendekar pencak silat yang secara aktif dan berkomitmen untuk menjadikan seni pencak silat sebagai cabang olah raga yang dipertandingkan, kemudian membentuk sebuah forum rapat yang membahas khusus mengenai teknis pertandingan, termasuk penentuan juri, dan aturan pertandingan.