Liputan Khusus

Kisah Pekak Putra, Pemulung yang Maniak Buku

Sambil duduk santai di atas rongsokan kayu, kakek yang rambutnya sudah putih, dan kulitnya mengeriput itu mulai membaca buku

Kisah Pekak Putra, Pemulung yang Maniak Buku
Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara
Pemulung Ketut Putra sedang baca buku di depan ruko di Wangaya, Denpasar, belum lama ini. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Usai memulung di kawasan pusat Kota Denpasar, I Ketut Putra, tak langsung menukarkan barang-barang bekas yang ia dapat untuk dijadikan uang.

Saban hari, kakek berusia 72 tahun ini menyempatkan diri untuk membaca buku-buku yang ia pinjam gratis di perpustakaan daerah Kota Denpasar.

Belum lama ini, Tribun Bali berhasil menemui Pekak Putra di depan ruko sebelah Pasar Adat Wangaya, Jalan Kartini, Denpasar.

Saat itu ia baru saja datang dari mengais sampah di kawasan Jalan Gajah Mada, dan Jalan Sulawesi, Denpasar.

Sore itu ia mendapatkan tiga karung plastik sampah botol dan kardus bekas.

Setelah selesai mengikat dan merapikan barang-barang bekas hasil memulung, pria yang berpakaian lusuh dengan topi di kepalanya ini mengeluarkan tas kecil. Tribun Bali pun terhenyak saat melihat Pekak Putra mengeluarkan sebuah buku tebal dari tasnya.

Sambil duduk santai di atas rongsokan kayu, kakek yang rambutnya sudah putih, dan kulitnya mengeriput itu mulai membaca buku yang tebalnya sekitar 5 cm.

Tubuhnya yang menghadap tembok, membelakangi hiruk pikuk keramaian pasar terlihat tak bergerak saat membaca buku. Sangat khusyuk.

"Ini buku tentang perseteruan antara agamawan, dan akademisi. Bagaimana perdebatan soal bumi bulat dan bumi datar pada abad ke 16 dulu," kata Pekak Putra kepada Tribun Bali.

Sebelum menghampirinya, sekitar 20 menit Tribun Bali memerhatikan pria bertubuh kecil itu dari kejauhan.

Halaman
1234
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved