Liputan Khusus
Kisah Pekak Putra, Pemulung yang Maniak Buku
Sambil duduk santai di atas rongsokan kayu, kakek yang rambutnya sudah putih, dan kulitnya mengeriput itu mulai membaca buku
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Ady Sucipto
"Kan setiap orang pengen mencari kebahagiaannya di usia tua. Ada yang setelah pensiun bertani, berternak, nah kalau saya ke jalan ini saja," ujar pemulung yang maniak buku ini.
Di Denpasar, Pekak Putra kos di Jl Wibisana Barat Gang IV L1, sebuah kos-kosan sederhana yang tarifnya Rp 300 ribu per bulan. Tribun Bali sempat mencari Pekak Putra ke tempat kosnya, namun empat kali dicari, tak kunjung bertemu.
Menurut penuturan teman-temannya di kosan, Pekak Putra jarang tidur di kos. "Tidak pernah pulang dia ke kos. Tidurnya di jalanan. Kalaupun pulang, paling jam 12, jam 1 malam itu," ujar salah satu teman kosnya.
Pekak Putra pun mengakui hal itu. Ia memilih demikian bukan tanpa alasan. Selain karena suka hidup di alam bebas yang penuh hiruk pikuk kegiatan manusia, ia memilih jadi petualang jalan karena pekerjaannya sebagai pemulung yang takut kehilangan barang-barang yang ia dapat hasil memulung.
"Kalau saya pulang, berarti harus saya bawa barang saya yang banyak ini, kadang-kadang capek. Makanya saya memilih tidur di sekitaran pasar ini (Pasar Wangaya)," tuturnya.
Di pinggiran ruko-ruko sebelah Pasar Adat Wangaya itulah, Pekak Putra tiap hari memejamkan matanya. Usai menjalankan aktivitasnya memulung, ia mandi di sumber mata air yang terdapat di bawah jembatan dekat pasar itu.
"Di sana airnya jernih, saya biasanya mandi di sana."
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari semisal untuk makan, minum, ia mengandalkan hasil dari memulung. Rata-rata setiap hari Pekak Putra mampu menjadikan barang bekas hasil memulung menjadi rupiah mulai dari Rp 30 ribu sampai Rp 40 ribu. "Segitu sudah cukup buat saya," katanya.
Selama 10 tahun menjadi pemulung, Pekak Putra mengaku keliling tidak menggunakan sepeda motor, ataupun sepeda, melainkan berjalan kaki.
Bahkan, saat jatuh tempo harus mengembalikan buku-buku yang ia pinjam di perpustakaan, ia harus berjalan kaki, dari Jl Kartini sampai Jalan Kapten Agung, Denpasar.
"Kalau perpustakaan provinsi saya tidak pernah, karena lumayan jauh itu tempatnya. Untungnya perpustakaan Denpasar lumayan dekatlah, jadi saya bisa jalan khaki," ujarnya.
Di usianya yang sudah renta ini, Pekak Putra merasa tidak ada yang aneh dengan dirinya yang masih suka membaca buku.
Memang menurutnya masyarakat Indonesia bukannya tidak hobi membaca, namun hal itu terkendala dana.
Menurutnya, orang di luar negeri banyak yang hobi membaca karena dari kecil mereka sudah mendapatkan didikan dari orangtuanya agar dekat dengan buku.
Sebelum tidur, anak-anak berusia mulai tiga bulan sudah dikenalkan dengan buku, dan cerita-cerita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pemulung-ketut-putra_20181016_085705.jpg)