Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Liputan Khusus

Kisah Pekak Putra, Pemulung yang Maniak Buku

Sambil duduk santai di atas rongsokan kayu, kakek yang rambutnya sudah putih, dan kulitnya mengeriput itu mulai membaca buku

Tayang:
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Ady Sucipto
Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara
Pemulung Ketut Putra sedang baca buku di depan ruko di Wangaya, Denpasar, belum lama ini. 

"Dulu saya sekolah di Singaraja. SD sampai SMA saya tamat di Singaraja," katanya.

Sejak kecil, Pekak Putra mengaku memang hobi membaca buku. Terbukti saat Tribun Bali bercakap-cakap dengan pria ini, obrolan tentang berbagai hal, seperti tokoh sejarah, para ilmuan tingkat dunia, hingga pengetahuan-pengetahuan tentang tubuh manusia tak pernah buntu ia wacanakan.

Dari topik satu ke topik lain yang diutarakan, pria murah senyum ini seakan mengetahui banyak hal. Di usianya yang sudah 72 tahun saat ini, nada suara Putra masih terdengar nyaring dan tegas saat berbicara.

Buku yang dipegang saat ini ia pinjam tanggal 22 September lalu di Perpustakaan Kota Denpasar yang terletak di ujung utara Jalan Kapten Agung, Denpasar.

Buku berjudul Malaikat & Iblis itu merupakan buku International Bestseller yang ditulis oleh Dan Brown, penulis buku paling fenomenal The Da Vinci Code.

Sambil duduk santai di sebelah tumpukan barang-barang bekas hasil memulung, Putra bercerita tentang buku yang baru setengah ia baca. Buku itu, ia sebut buku ilmiah, yang mengisahkan sosok ilmuan, astronom, filsuf dan fisikawan asal Italia.

Ilmuwan yang satu ini dikisahkan sempat mengalami perseteruan karena berhasil membalikkan keyakinan orang pada masa itu.

Tatkala belum adanya teknologi roket, dan pesawat udara, kepercayaan orang Gereja bahwa bumi adalah pusat alam semesta.

Kala itu, Galileo membalikkan kepercayaan masyarakat bahwa hasil pengamatannya secara ilmiah menunjukkan bahwa bumi bukan pusat alam semesta, melainkan matahari adalah pusat tata surya.

"Dalam buku ini diceritakan Galileo membalikan itu. Ia  mengatakan bukan matahari yang mengelilingi bumi, tapi bumilah yang mengelilingi matahari. Waktu itu entah bagaimana dia disuruh mencabut pernyataannya, dan akibat itu pula ia dihukum jadi tahanan rumah," tutur Pekak Putra mengisahkan buku yang ia baca.

Selesai berkisah tentang buku, Pekak Putra kemudian mengisahkan perjalanan hidupnya waktu masih muda. Setamat dari SMA di Singaraja, ia tidak melanjutkan kuliah.

Pekak Putra mengawali kariernya sebagai pegawai di perusahaan asuransi. Selesai di sana, pria dua saudara ini kemudian memilih bekerja sebagai buruh proyek hotel di Sanur, Denpasar. Sekitar 4 tahun Putra bekerja sebagai buruh proyek kala itu.

"Waktu masih muda saya orang pekerja. Waktu saya banyak habis untuk bekerja, dan bekerja. Saya juga pernah jadi guide freeland. Setelah pensiun akhirnya saya memilih jadi pemulung saja," ucap pria yang hingga kini belum menikah itu.

Sejak berhenti jadi guide freeland, Pekak Putra akhirnya memilih merantau di Denpasar.

Di usia yang sudah tua, dirinya merasa akan sulit menerima pekerjaan dengan tenaga yang sudah jadul. Itu sebabnya, ia memilih menjadi pemulung agar bisa berpetualang bebas ke sana ke mari.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved