Unik! Atasi Patah Hati Berlebihan, Mahasiswa Unud Gelar Pelatihan Move On
Seorang mahasiswa psikologi Universitas Udayana, I Putu Brian Obie Putra membuat pelatihan untuk menyembuhkan patah hati atau move on.
Penulis: Ida Ayu Suryantini Putri | Editor: Alfonsius Alfianus Nggubhu
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Merasakan sakit karena ditinggal oleh orang terkasih memang berat.
Apalagi sakit psikologis itu bisa berujung pada sakit fisik, seperti turunnya atau naiknya berat badan secara drastis.
Baca: Konferensi Our Ocean di Bali, Oceana Dukung Upaya Pengurangan Produksi Plastik
Baca: Dihantam Yamaha Vixion, Nyawa Pekak Ketut Kenyab Melayang, Terpental 5 Meter
Baca: Warga Tempek Klod Kauh Memohon Keselamatan Bangsa Saat Prosesi Shafaran di Makam Balok Sakti
Baca: Ternyata Video HT Polantas yang Dirampas Pengendara Berbuntut Panjang, Begini Nasib Sang Pria Arogan
Meski hampir setiap remaja pernah mengalaminya, tetapi luka psikologis ini tak bisa dianggap remeh.
Jika dibiarkan, ia akan sangat mengganggu produktivitas hingga turunnya tingkat percaya diri pada remaja. Bahkan, pernah terjadi kasus, remaja mengakhiri hidupnya karena patah hati.
Melihat dampaknya yang cukup serius, seorang mahasiswa psikologi Universitas Udayana, I Putu Brian Obie Putra membuat pelatihan untuk menyembuhkan patah hati atau move on.
Ia memberi tagline “Move On itu Melangkah Maju, bukan Melupakan”. Saat mencoba move on, yang harus dilakukan adalah menerima kenyataan dan memulai lagi bukan berusaha melupakan.
Untuk memulai pelatihan ini, ia mengumpulkan para remaja yang pernah atau sedang mengalami patah hati.
Sebelum mengikuti sesi, remaja tersebut diberi pertanyaan seputar penyebab dan yang dialaminya. Dari sana, ia mendapat data bahwa penyebab patah hati di Bali sangat kompleks, dari kasta, nyentana, agama, dan orangtua.
Menurutnya, cara terbaik untuk menyembuhkan patah hati adalah pertama menyadari bahwa sedang dalam masalah dan punya keinginan untuk move on, yang kedua adalah mau cerita.
“Di sini banyak sekali individu yang mau daftar, kalau pendaftaran itu ada 48 orang tapi yang datang cuma 20, dan banyakan temennya yang daftarin. Dia merasa nyaman, bahwa aku bisa perjuangin ini padahal si temannya bilang udah parah banget. Kalau kayak gitu, kita enggak bisa masuk karena dia enggak sadar makanya perlu kesadaran kalau dia mau move on,” ujarnya.
Hal kedua adalah, dia mau cerita. “Jadi tidak timbul unek-unek di dalam dirinya dan disimpan semuanya sendiri. Itu kan berat banget karena itulah yang membuat menurut L. K Suryani Institute, kenapa orang Bali rentan stres karena ada budaya ngekoh ngomong. Dia lebih memilih untuk disimpan sendiri padahal cerita itu sangat penting meskipun simpel,” jelasnya lagi.
Pelatihan ini dilakukan sebanyak tiga kali, yakni pada tanggal 20, 27, dan 28 Oktober. Ada beberapa tahapan yang diberikan kepada peserta selama mengikuti ini.
Hari pertama dilengkapi secara kognitif, ada sesi sharing. Kedua, ada katarsis (pelampiasan emosi) dan trusting (membuat kepercayaan sesama teman).
Ketiga adalah pelepasan. “Jadi selama seminggu ini kami kontrol teman-teman mulai dari kognitifnya, materi kami lengkapi, kemudian ada sesi sharing, banyak yang curhat masalah hatinya bahkan ada yang sampai menerima kekerasan. Kemudian ada katarsis, banyak yang bilang bahwa marah dan menangis adalah emosi buruk padahal marah itu respons yang wajar ketika kita kesal dan nangis adalah respons yang wajar ketika kita sedang bersedih,” jelas laki-laki yang biasa dipanggil Obie ini.
Di sini, tim ingin agar peserta atau responden mau mengeluarkan emosi yang ada di dalam dirinya, entah menangis atau marah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/unud_20181028_233933.jpg)