Menerka Semesta Kita, Masuk ke ‘Semesta’ Sang Perupa

Pernahkah kita menerka bagaimana rupa sebuah semesta yang penuh dengan keliaran imajinasi, kebebasan tiada batas?

Menerka Semesta Kita, Masuk ke ‘Semesta’ Sang Perupa
Tribun Bali/Ni Ketut Sudiani
Salah satu lukisan yang dipamerkan dalam pameran bertajuk “Semesta Kita” di Bentara Budaya Bali, yang berlangsung hingga 27 Januari 2019. 

Misalkan saja “Mermaid dan Angin” (2017), “Diterjang Badai” (2017), “Godaan Iblis” (2018), “Taman Eden 2018” (2018), “The Sacred Riana” (2017), “Face of Lucy” (2017).

Bahkan untuk menggambarkan sosok yang biasanya dikenal jenaka, lukisan “Badut” (2017) pun tampil dengan cara yang “gelap”.

Terlepas dari betapa “gelap” dunia yang digambarkan Anfield, kita masih bisa menemukan sisi kanak Anfield melalui tokoh-tokoh film anak yang dipinjamnya.

Satu di antaranya adalah Mermaid, yang begitu populer di kalangan anak-anak.

Tahun lalu, Anfield sempat mengikuti pameran “Solidarity, Peace and Justice”, di Balai Budaya, Jakarta.

Lukisan Naripama Ramavijaya terbilang berbanding terbalik dengan Anfield.

Karya Gus Rama, kelahiran Bali, 18 Oktober 2002, lebih riang dan penuh warna-warna terang.

Di dalamnya pun terjadi komunikasi di antara tokoh-tokoh yang dihadirkan.

Beberapa di antaranya juga tampak lebih seperti karikatur.

Misalkan pada “Mobil Kereta” (2018), “Ulang Tahun” (2016), “Circus” (2012).

Apabila diperhatikan angka tahun lukisan, antara karya tahun 2012, 2016, dan terkini 2018, Gus Rama tetap menghadirkan kegembiraan.  

Meski memiliki keterbatasan untuk berkomunikasi secara terstruktur, namun melalui gambar-gambar itulah ia menyampaikan maksud dan keinginannya.

Ia bukan tidak mampu berkomunikasi, tapi ia memiliki cara yang berbeda untuk berkomunikasi.

Baca: Edy Rahmayadi Akui Poin-poin Ini Gagal Dijalankan Selama Jabat Ketua Umum PSSI

Baca: Ramalan Zodiak 20 Januari 2019: Libra Super Romantis, Hari Penuh Kebahagiaan Bagi Aquarius

Baca: Edy Rahmayadi Harapkan Sosok Ini Sebagai Penggantinya di PSSI

Menarik pula melihat hasil puasan Raynaldy Halim yang tanpa tokoh.

Lahir di Jakarta, 9 September 1997, Aldy pernah meraih penghargaan MURI untuk lukisan terbanyak anak berkemampuan khusus.

Cara Aldy mengungkapkan semestanya boleh jadi paling sulit untuk dipahami orang kebanyakan. 

Lihatkan bagaimana Aldy melukiskan “Pelita Kasih” (2018).

Bercak-bercak dan paduan sejumlah warna seakan bebas menari pada karya itu.

Begitu juga dengan caranya menggambarkan “Keluarga” (2018).

Ada sekitar empat hingga lima komposisi warna di dalamnya.

Masing-masing diberikan ruang tersendiri dengan bentuknya yang tak berbentuk.

Barangkali baginya, biru mewakili ayah, merah dirinya, hijau berpadu kuning adalah ibu.

Kita hanya bisa menafsir, walau tidak pernah tahu bagaimana sesungguhnya isi semesta Aldy.

Sementara Aquillurachman Prabowo, boleh jadi yang paling mampu menguasai semestanya dan semesta kebanyakan orang.

Pada “Menghidap Gawai” (2018), bahkan dia dapat memberikan kritik terhadap apa yang terjadi kini dalam kehidupan sosial masyarakat yang telah kecanduan gawai.

Kegilaan orang, yang digambarkan lewat figur menyerupai buaya, akan gawai, telah melebihi candu perokok.

Karakter serupa bisa dilihat juga pada “Me Againts The World” (2018), dan “Apa Serunya Normal” (2016).

Ia pernah meraih The Best Puppet Maker pada International Red Mood Festival Moscow – Red Teather Rusia (2018).

Spontan dan Merdeka

Apa yang dilakoni keempat anak muda ini dapat dikatakan sebagai Art Brut, seni yang dicipta oleh mereka yang selama ini dipinggirkan.

Namun sebagaimana dituliskan Wayan ‘Kun’ Adnyana, dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar, pemahaman tentang Art Brut tidak lagi dibaca sebagai karya seni kaum terpinggirkan, tetapi platform untuk menimbang akar kespontanan seni atau pun ekspresi kejiwaan yang murni.

Hingga kini, seni tetap dipercaya sebagai terapi untuk memeroleh atau menuju jiwa-jiwa yang merdeka.

Melepas bebaskan segala kespontanan dalam diri.

Seni pulalah yang memungkinkan terjadi peleburan sekat-sekat pembatas yang selama ini cenderung membuat orang-orang kerap anti dengan perbedaan.

Begitu pula dengan keempat seniman muda ini yang telah berhasil menerabas batas-batas pembatas itu. Terimakasih telah mengenalkan semesta kalian pada kami. (*)

Penulis: Ni Ketut Sudiani
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved