Benarkah Game Kekerasan Berkaitan dengan Agresivitas Menyerang Orang Lain?
Adakah kaitan antara kebiasaan menonton game/permainan berbau kekerasan dan efeknya terhadap agresivitas menyerang orang lain?
Untuk menguji kemampuan gamer dalam hal empati dan agresi, para peneliti melakukan kuesioner psikologis.
Kemudian, saat menjalani scan MRI, para gamer ditunjukkan serangkaian gambar yang dirancang untuk memancing berbagai tanggapan emosional.
Menggunakan scanner MRI pula, para peneliti mampu mengukur bagian-bagian tertentu dari otak, untuk membandingkan aktivitas dan tanggapan dari gamer dan non-gamer.
Baca: TRIBUN WIKI - 10 Bengkel Resmi Astra Motor di Bali, Informasi Lengkap Alamat & Nomor Telepon
Baca: Program Pajak Gratis di Badung Tak Mampu Bendung Alih Fungsi Lahan Pertanian
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan antara dua kelompok, keduanya menunjukkan respons otak mirip dengan gambar.
Dr Szycik mengatakan timnya terkejut dengan temuan mereka, yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Psychology.
Dia mengatakan mereka menunjukkan bahwa efek negatif dari video game kekerasan pada perilaku, hanya bersifat jangka pendek.
Tapi, ia menambahkan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan.
Baca: Pak Dubes, Kami Selamat, Mahasiswa Indonesia Saksi Penembakan Menyelamatkan Diri ke Rumah Penduduk
Baca: Prioritas Penanganan Rabies di 3 Zona Merah, Gelontorkan Rp 23 M Menuju Bali Bebas Rabies 2020
Hanya saja Dr Szycik menambahkan, penelitian ini dilakukan pada laki-laki dewasa, bukan pada anak-anak.
Sehingga, baiknya orangtua mencegah anak-anak bermain game kekerasan jenis apapun, hingga usia mereka dewasa atau di atas 18 tahun.
Pasalnya, efek jangka pendek dari game kekerasan sangat mungkin ada.
Dan anak-anak lebih mudah menyerap apa yang mereka dapatkan dan berisiko memiliki dampak hingga jangka panjang. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunstyle.com dengan judul Benarkah Penembakan Brutal Brenton Tarrant di Selandia Baru Terpicu Game Kekerasan? Ini Jawabannya