Ubah Sampah Kotor Jadi Bermanfaat, Bahkan Bernilai Ekonomis
Sampah organik yang selama ini dianggap bau dan kotor, ternyata dapat dimanfaatkan dan menghasilkan benefit bagi masyarakat
Penulis: Meika Pestaria Tumanggor | Editor: Irma Budiarti
Ubah Sampah Kotor Jadi Bermanfaat, Bahkan Bernilai Ekonomis
Laporan Wartawan Tribun Bali, Meika Pestaria Tumanggor
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sampah organik yang selama ini dianggap bau dan kotor, ternyata dapat dimanfaatkan dan menghasilkan benefit bagi masyarakat.
Pada workshop pengolahan sampah organik untuk ketahanan pangan keluarga yang digelar Bali Wastu Lestari, Kamis (8/8/2019) kemarin, peserta diajak membuat kompos dari sampah organik.
Workshop yang digelar di Warung Bali Warti Buleleng, Jalan Ganetri Nomor 4, Kota Denpasar, ini memperlihatkan bahwasanya membuat kompos tak lagi ribet, cukup dengan waktu lima menit, tanpa bau, tanpa ulat dan bisa langsung pakai.
Dimas Tan Kiniro dari Komunitas TRB (Tani Remen Budaya) Yogyakarta mengatakan, hal penting yang perlu diperhatikan dalam membuat kompos dari sampah organik adalah memastikan sampah organik telah dipisahkan dengan sampah anorganik.
• Lebih Mudah dan Cepat: Bikin Kompos dengan Campuran Remen, 5 Menit Jadi
• TRIBUN WIKI: 10 Toko Parfum Di Denpasar Lengkap Beserta Alamatnya
Selanjutnya untuk pembuatan kompos skala rumah tangga, sampah organik dapat dihancurkan dengan menggunakan blender.
"Pembuatan kompos dari sampah organik kita lakukan dengan teknologi mikrobial, yaitu menggunakan remen. Remen berfungsi untuk pengurai," kata Dimas.
Dijelaskan, remen hanya diproduksi oleh Komunitas TRB (Tani Remen Budaya) dan tidak dijual secara komersil.
Namun, bagi masyarakat Bali yang membutuhkannya untuk mengolah sampah, akan diakomodasi oleh Yayasan Bali Wastu.
Jadi, masyarakat bisa menghubungi Yayasan Bali Wastu atau bank sampah di bawah binaan Yayasan Bali Wastu, untuk mendapatkan remen atau yang biasa disebut liang untuk masyarakat biasa.
• Jobstreet Gelar Seminar Rahasia Merekrut Karyawan Terbaik di Era Digital
• Jenazah Wayan Ada dan Wayan Ariana Tiba di Bali Hari Ini Pukul 17.25 Wita
Dilanjutkan Dimas, setelah sampah organik telah dihancurkan, kemudian dicampurkan remen, garam, kapur dan sekam.
"Setelah itu kompos langsung bisa digunakan. Pembuatan dengan teknik ini tak membutuhkan waktu lama, lima menit jadi," lanjut Dimas.
"Dengan konsep seperti ini harapannya dapat mengubah paradigma masyarakat Bali bahwa sampah bukan lagi sesuatu yang kotor tapi bermanfaat. Sampah bisa diolah menjadi kompos. Kompos ditambahkan pada tanaman. Dan tanaman bisa dijual sehingga menjadi nilai lebih," jelas Dimas.
Metode ini merupakan pengolahan sampah berbasis 3RB, reduce, reuse, recycle, dan benefit.
"Sampah yang awalnya tidak ada harganya, setelah dicampur ke tanaman, akan mendapat nilai lebih," kata Dimas.
(*)