Dihadiri 20 Negara, Ini yang Diharapkan Panitia Workshop Kesehatan Mulut, Gigi dan HIV/AIDS
Ada 20 negara peserta yang hadir dalam lokakarya ini, ada dari USE, Afrika Selatan, United Kingdom, dan lainnya.
Penulis: M. Firdian Sani | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Laporan Wartawan Tribun Bali, M. Firdian Sani
TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Workshop kesehatan seputar mulut, gigi dan HIV/AIDS berlangsung di
di hotel Trans Resort Bali, Jumat (13/09/2019).
Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah di acaranya yang ke delapan ini.
Irna Sufiawati mengatakan workshop atau lokakarya ini dilaksanakan di berbagai negara dan Indonesia kini menjadi tuan rumah.
Ada 20 negara peserta yang hadir dalam lokakarya ini, ada dari USE, Afrika Selatan, United Kingdom, dan lainnya.
"Acara ini founder-nya adalah para-para expert di luar negeri, jadi para pakar internasional membentuk komunitas dan membuat workshop ini dan ini adalah yang ke delapan. Jadi kita sangat bangga indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah," ungkapnya.
• Kami Sampai Tak Bisa Bayar Utang dan Iuran Adat, Karyawan Perusda Jembrana Tuntut Pembayaran Gaji
• Anak Pedangdut Elvy Sukaesih Serang Pemilik Warung Pakai Samurai Karena Ditolak Utang Rokok
Lokakarya seputar kesehatan mulut dan AIDS ini juga diselenggarakan dari kerja sama dengan berbagai instansi berbagai negara seperti Universitas Padjadjaran, Udayana, Saraswati, UCSF, Queen Mary, King Collage, National Institute of health, IADR (international associations of dental researchers).
Irna Sufiawati selaku ketua panitia lokal menilai bahwa seminar ini menjadi penting karena Indonesia kemungkinan bisa melakukan kerja sama dari pihak internasional untuk membuat negara ini menjadi lebih baik lagi.
"Kita bisa mengadakan kerja sama atau kolaborasi kepada pihak internasional terutama, supaya kondisi indonesia bisa lebih baik lagi," ucapnya.
Irna Sufiawati mengatakan ada dua hal yang sangat penting, utamanya untuk kalangan dokter gigi maupun calon dokter gigi, yakni yang pertama dokter gigi harus siap merawat pasien-pasien HIV, yang kedua adalah menghilangkan diskriminasi dan stigma negatif bagi pasien HIV.
• Momentum Transformasikan Ilmu ke Masyarakat, Mahendra Sukses Jalani Bisnis Trading Forex Online
• Sama-sama Tokoh Besar dalam Teknologi, Bill Gates Mengaku Iri dengan Sifat Steve Jobs
"Jadi mereka harus menangani dan menganggap pasien itu sama semua dan mereka harus menganggap HIV itu sama dengan penyakit-penyakit yang lain yang perlu diobati," katanya.
Jadi dokter gigi sebagai tenaga yang profesional harus tetap melayani Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) dengan baik, sama seperti mereka menangani pasien lainnya.
Irna menjelaskan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menangani pasien dengan status HIV atau AIDS.
"Yang harus diperhatikan adalah mereka mempunyai tanda-tanda khusus dalam rongga-rongga mulutnya, mereka juga punya sifat yang khas yang muncul dari stigma masyarakat kepada mereka. jadi mereka merasa bukan bagian dari masyarakat pada umumnya. Nah itu yang harus kita perhatikan. Jadi jangan ada stigma dan diskriminasi," jelasnya.
• Setiap 40 Detik Orang Tewas, Bunuh Diri Penyebab Kematian Nomor Dua Orang Muda Usia 15-29 Tahun
• Tak Takut Bersaing dengan Produk Impor, Kaori Perkenalkan Parfum Khas Bali
Masyarakat kini harus benar-benar sadar dan tidak boleh melakukan diskriminasi kepada mereka yang terjangkit HIV/AIDS.
Dengan tidak adanya stigma negatif dan diskriminasi dari masyarakat, mereka yang terjangkit HIV akan lebih terbuka dan tidak merasa malu untuk berobat.
Irna sangat berharap masyarakat khususnya masyarakat Indonesia mau menghilangkan stigma negatif dan tidak melakukan diskriminasi terhadap ODHA. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/suasana-workshops-kesehatan-seputar-mulut-gigi-dan-hivaids.jpg)