Sempat Akan Dibangun di Dekat RSJ, Sampai Kini Bali Belum Miliki Tempat Pengolahan Limbah Medis

Pihaknya berharap, Bali segera memiliki tempat pengolahan limbah medis sendiri, sehingga tidak perlu lagi mengirim limbah ke Jawa.

Sempat Akan Dibangun di Dekat RSJ, Sampai Kini Bali Belum Miliki Tempat Pengolahan Limbah Medis
Tribun Bali/Wema Satya Dinata
Direktur Rumah Sakit Bali Mandara (RSBM), dr. Gede Bagus Darmayasa 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR–Direktur Rumah Sakit Bali Mandara (RSBM), dr. Gede Bagus Darmayasa mengatakan, RSBM sudah memiliki Tempat Pembuangan Sementara (TPS) limbah medis yang tergolong Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sendiri.

Sayangnya limbah medis tersebut tidak bisa langsung dibuang dan diolah di Bali, melainkan harus dikirim ke Bogor melalui pihak ketiga.

“Sekarang ini limbahnya diambil oleh pihak ketiga, karena baik limbah padat, cair dan B3 itu sangat beresiko,” kata dr. Bagus, saat ditemui di RSBM, Jumat (20/9/2019).

Derby Della Madonnina Tersaji pada Pekan Keempat Serie A, Conte Incar Kemenangan Perdana

Pemeran Foto Sejarah, Kenalkan Sejarah Puri Agung Negara ke Masyarakat Luas

Ia menambahkan, limbah medis yang dihasilkan RSBM setiap minggu juga diperiksa oleh sanitasi lingkungannya, dan untuk TPSnya diawasi oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Denpasar.

Pihaknya berharap, Bali segera memiliki tempat pengolahan limbah medis sendiri, sehingga tidak perlu lagi mengirim limbah ke Jawa.

“Saya senang kalau ada di Bali. Harapannya kalau bisa ada di Bali, tetapi kebijakannya kan dari Pusat (Kementerian Lingkungan Hidup)."

Dr.Bagus menceritakan dulu sewaktu dirinya menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ), pernah ada wacana akan membangun tempat pengolahan limbah di dekat RSJ, karena di sana ada lahan 700 hektare.

Tetapi Kementerian Lingkungan Hidup saat itu menganggap tidak cocok, karena zonasi Bali sudah ditetapkan sebagai daerah industri pariwisata.

“Akhirnya rencana tersebut dibatalkan,” imbuhnya.

Ajak 20 Industri Pariwisata di Event WTM, Akhir Tahun Badung Lakukan Promosi ke London

Penabuh Keracunan Makanan, Desa Penatih Batal Ikut Lomba Baleganjur

Sebelumnya, Kasubdit Penyidikan Pencemaran Lingkungan Hidup, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Antonius Sardjanto mengatakan akan segera dibentuk tim terpadu yang terdiri dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan, IDI, Asosiasi Klinik (PKFI), asosiasi Rumah Sakit (Persi) dan Reskrimsus Polda yang akan melakukan pembinaan dan monev ke semua Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) terkait penampungan limbah medis tersebut.

Saat menjadi narasumber dalam diskusi penanganan kasus penimbunan limbah medis di Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali, dia menegaskan aturan berupa sanksi administratif akan diberikan dalam pembinaan jika ditemukan ketidaklengkapan, atau kalau ada Fasyankes yang mengelola limbah tak sesuai aturan.

Dikatakannya, Fasyankes tidak diharuskan memiliki TPS limbah B3, tapi mereka bisa kerja sama dengan pihak ketiga untuk mengangkut dan membuang limbah tersebut.

Dibekali 4 Kecerdasan, Undiknas Lepas 191 Wisudawan Wisudawati ke-83

Penampungan limbah medis B3 dapat dilakukan maksimal 48 jam, dan setelah itu limbah medis wajib diangkut.

 
“Kami harapkan nantinya di setiap puskesmas dan rumah sakit yang memenuhi syarat agar membuat TPS sendiri,” harapnya. (*)

Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved