Perusahaan Besar Berkamuflase, Langganan PDAM tapi Sedot Air Bawah Tanah

Komisi III DPRD Gianyar memprediksi Kabupaten Gianyar, akan mengalami krisis air dalam beberapa tahun mendatang.

Perusahaan Besar Berkamuflase, Langganan PDAM tapi Sedot Air Bawah Tanah
Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Ketua Komisi III DPRD Gianyar, Putu Gede Pebriantara 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYARKomisi III DPRD Gianyar memprediksi Kabupaten Gianyar, akan mengalami krisis air dalam beberapa tahun mendatang.

Hal tersebut lantaran penggunaan air bawah tanah (ABT) saat ini belum terkontrol.

Perusahaan besar, seperti hotel, restoran, dan lainnya hampir semua menggunakan ABT.

Komisi III menyebut, mereka menjadi pelanggan air PDAM Gianyar hanya sebuah kamuflase. Karena itu, merekapun akan menggagas Perda ABT untuk mengontrol penggunaannya.

Ketua Komisi III DPRD Gianyar, Putu Gede Pebriantara, Jumat (27/9/2019) mengatakan, studi komprehensif yang dilakukan pihaknya ke sejumlah kota-kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya, diketahui dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan mereka akan mengalami krisis air bersih.

Istri Curiga Siki Telat Pulang Dua Jam, Perahu Tenggelam Saat Bawa Banyak Tangkapan

Dua TPA di Bali Rawan Kebakaran, Petugas Tak Boleh Angkut Sampah Sembarangan

Kondisi tersebut disebabkan oleh massifnya penggunaan air bawah tanah dari perusahaan besar.

Dalam mengantisipasi hal tersebut, mereka mulai mengontrol penggunaan ABT melalui pajak, yang diatur dalam Peraturan Daerah (Perda).

Politikus PDIP asal Sukawati ini menegaskan, jika penggunaan ABT tak ditekan atau dikontrol oleh pemerintah, dalam hitungan 10 tahun, Gianyar dipastikan akan mengalami krisis air.

Pebri pun mengaku telah melakukan observasi di sejumlah sumber mata air di Kabupaten Gianyar, dan dia menemukan sejumlah sumber air yang mengering.

“Kita di Gianyar memiliki banyak sumber mata air, tapi penggunaannya tidak bijak. Di Blahbatuh, kami temukan sumber mata air yang mengalami kekeringan, sejumlah lahan persawahan di kawasan Ubud, kalau tidak dialiri air, cepat sekali kering. Itu semua bukan karena dampak musim kemarau, tapi dampak penggunaan air bawah tanah yang tidak terkontrol,” ujarnya.

Siswa Semringah Punya Jembatan, Sebelumnya Harus Seberangi Sungai untuk Sekolah

Tingkat Hunian Kamar Hotel di Bali Kini Hanya 65 Persen, Pelaku Pariwisata Dukung Moratorium

Halaman
12
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved