Siswa Semringah Punya Jembatan, Sebelumnya Harus Seberangi Sungai untuk Sekolah
Ratusan warga bahu-membahu mengecor jembatan penghubung Banjar Tonja, Desa Gubug dan Banjar Bongan Kauh Desa Bongan, Jumat (27/9/2019).
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Ratusan warga bahu-membahu mengecor jembatan penghubung Banjar Tonja, Desa Gubug dan Banjar Bongan Kauh Desa Bongan, Jumat (27/9/2019).
Jembatan ini dibangun di atas aliran sungai Yeh Empas Tabanan.
Jika jembatan ini sudah selesai nanti, maka warga dan siswa tidak perlu lagi turun untuk melintasi sungai Yeh Empas.
Selama ini, mereka harus melintasi sungai dulu untuk tiba di seberang.
“Pengajuan pembangunan jembatan ini sudah dari lama, sekitar tahun 2009 lalu. Sebelum ada jembatan, siswa yang akan masuk ke SMPN 5 Tabanan di Sudimara harus menyeberangi sungai. Kalau memutar ke jalan utama membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar 30 menit,” ujar Kelian adat Banjar Tonja, Desa Gubug, Nyoman Sujana.
• Suwindra Khawatir Pembangunan Bandara Bali Utara Akan Hancurkan Adat Dan Budaya
• Tingkat Hunian Kamar Hotel di Bali Kini Hanya 65 Persen, Pelaku Pariwisata Dukung Moratorium
Selain warga, proyek jembatan ini juga dikerjakan oleh warga binaan Lapas Tabanan, Polri serta TNI.
Proyek ini merupakan bagian dari program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke 106 tahun 2019 Kodim 1619/Tabanan.
Setelah jembatan dan jalan rampung, warga antar dua desa ini akan dibantu dalam hal akses jalan.
Siswa tak perlu menyeberangi sungai lagi dan petani juga akan sangat terbantu dengan terbukanya akses ini.
Ihwal adat juga sangat terbantu.
Ketika warga Gubug atau Bongan melakukan upacara adat, mereka tak perlu menyeberangi sungai Yeh Empas lagi.
Banyak juga warga Gubug yang bekerja menjadi pedagang kemudian berdagang di Desa Bongan.
• Sistem Rekam Medik Masih Manual, RSUD Klungkung Perlu Pembenahan IT
• Sudah 12 Orang Meninggal Dunia Akibat Penyakit Terkait Vape atau Rokok Elektrik
“Mereka harus turun melewati sungai. Itu dilakukan jika air sungainya surut, tapi jika airnya bah kami terpaksa memutar ke selatan atau ke utara (jalur utama Denpasar-Gilimanuk) yang membutuhkan waktu 30 menit. Jika lewat sungai hanya butuh 10 menit saja,” imbuhnya.
Warga Bongan Dauh Pala, I Wayan Sumerta mengatakan, dari dulu jalan ini memang menjadi jalur alternatif warga untuk menuju Desa Gubug den sebaliknya.
Pengajuan dari pembangunan jembatan ini sudah dari 2009 lalu. Selama ini, jalur ini tidak bisa digunakan ketika ada air besar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pelajar-saat-melintas-di-sungai-dekat-jembatan-penghubung-desa-bongan-dan-desa-gubug.jpg)