Breaking News
Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Diduga Berpotensi Kanker, Berikut Dosis dan Efek Samping Obat Maag Ranitidin

Ranitidin biasa digunakan untuk menangani gejala atau penyakit yang berkaitan dengan kelebihan asam lambung.

kompas.com
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM – Ranitidin merupakan obat maag yang masuk dalam golongan antihistamin atau H2 (histamine-2).

Ranitidin biasa digunakan untuk menangani gejala atau penyakit yang berkaitan dengan kelebihan asam lambung.

Ranitidin tersedia dalam beberapa nama merek dagang, seperti  Acran, Conranin, Fordin, Radin, Rancus, Ranivel, Rantin, Ratinal, Renatac, Tyran, Ulceranin, Wiacid, Zantac, Zantifar.

Obat ini akan bekerja dengan cara menghambat sekresi asam lambung berlebih, sehingga bisa meredakan rasa sakit dan luka pada lambung akan sembuh perlahan-lahan.

Ranitidin juga bisa berfungsi untuk mencegah munculnya gejala-gejala gangguan pencernaan akibat makanan tertentu. 

Terkadang ranitidine dipakai untuk mengobati penyakit langka yang disebabkan oleh tumor di pankreas atau usus yang disebut sindrom Zollinger-Ellison. 

Ranitidin tersedia dalam bentuk tablet, tablet yang dapat larut dan cair. 

Dosis dan Cara Pakai Ranitidin

Dosis ratnitidin yang direkomendasikan untuk dewasa berkisar antara 150 mg sehari sekali atau 150 mg dua kali sehari atau 300 mg sekali sehari bergantung pada kondisi pasien.

Untuk mengobati gangguan pencernaan seperti sakit uluhati dan mual, dosis yang disarankan untuk orang dewasa dan anak-anak 8 tahun ke atas adalah 75 mg sampai 150 mg dan dikonsumsi ketika timbul gejala.

Jika gejalanya tidak hilang selama lebih dari 1 jam atau muncul kembali setelah 1 jam, maka dapat diberikan dosis kedua dengan takaran yang sama.

Sedangkan untuk mencegah gejala sakit maag, dianjurkan mengonsumsi ranitidin 30 hingga 60 menit sebelum makan makanan atau minuman yang dirasa bisa membuat maag kambuh.

Dosis maksimal ranitidin adalah 300 mg setiap 24 jam dan jika gejala yang dirasakan tidak hilang dalam 2 minggu maka dianjurkan segera menghubungi dokter. (3) 

Anggota Ormas Berulah di Jalan Cokroaminoto Denpasar, Kepala Korban Robek hingga Terima 6 Jahitan

Peneliti & Pemerhati Serangga dari Berbagai Negara Ikut Konferensi dan Kongres Internasional di Bali

Efek Samping

Kebanyakan orang yang menggunakan ranitidine tidak memiliki efek samping.

Efek samping yang dialami ketika mengonsumsi ranitidin tersebut akan menghilang ketika orang tersebut berhenti minum ranitidin.

Berikut efek samping dari ranitidin yang sifatnya ringan:

sakit perut
sembelit
merasa sakit kepala
mual

Efek samping yang serius

Efek samping serius jarang terjadi dan terjadi pada kurang dari 1 dalam 10.000 orang.

Hendaknya segera menghubungi dokter apabila mengalami;

Sakit perut yang tampaknya semakin memburuk,  ini bisa menjadi pertanda hati meradang atau pankreas
Sakit punggung, demam, sakit saat buang air kecil atau terdapat darah pada air seni, hal ini bisa menjadi tanda masalah ginjal
Ruam kulit yang mungkin termasuk kulit gatal, merah, bengkak, melepuh atau mengelupas
Detak jantung yang lambat atau tidak teratur
Kesulitan bernapas atau bahkan berbicara
Mulut, wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan mulai membengkak (2) 

Barcelona Selama Era Ernesto Valverde Ciptakan Rekor Unik, Bukukan Gol ke-300

Pemerkosa Dibebaskan Hakim, Baru Semenit Keluar dari Rutan Langsung Ditangkap Polisi

Penarikan Ranitidin

Pada 13 September 2019, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengumumkan bahwa ditemukan tingkat rendah N- nitrosodimethylamine (NDMA) di dalam ranitidin.

NDMA merupakan kontaminan lingkungan yang ditemukan dalam air dan makanan, termasuk produk susu, sayuran, dan daging panggang.

Klasifikasi sebagai kemungkinan karsinogen didasarkan pada penelitian pada hewan, sedangkan studi pada manusia sangat terbatas.

Menurut studi global, NDMA memiliki nilai ambang batas 69 ng/hari dan bersifat karsinogenik jika dikonsumsi di atas ambang batas secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama.

Meskipun diklasifikasikan sebagai kemungkinan karsinogen, NDMA dapat menyebabkan kanker hanya setelah paparan dosis tinggi selama periode waktu yang lama. 

Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia telah memerintahkan penarikan lima produk ranitidin yang terdeteksi mengandung N-nitrosodimethylamine (NDMA).

Produk ranitidin yang diperintahkan penarikannya setelah terdeteksi mengandung NDMA adalah Ranitidine Cairan Injeksi 25 mg/mL dengan pemegang izin edar PT Phapros Tbk.

Anggota Ormas Gerudug Kantor Leasing, Sebut Rekannya Dibacok Debt Collector, Ternyata ini Faktanya

Warga Perbaiki Jembatan Menuju Pura Tunggul Besi Secara Swadaya

Sementara itu, produk ranitidin terdeteksi NDMA yang ditarik sukarela adalah Zantac Cairan Injeksi 25 mg/mL dari PT Glaxo Wellcome Indonesia, Rinadin Sirup 75 mg/5mL dari PT Global Multi Pharmalab, serta Indoran Cairan Injeksi 25 mg/mL dan Ranitidine cairan injeksi 25 mg/ML dari PT Indofarma.

Selain itu, industri farmasi diwajibkan untuk melakukan pengujian secara mandiri terhadap cemaran NDMA dan menarik produknya apabila terindikasi mengalami pencemaran. 

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Ditarik karena Diduga Berpotensi Memicu Kanker, Berikut Dosis hingga Efek Samping Ranitidin

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved