Meningkat Drastis, Kasus DBD di Denpasar Tercatat 1.144 Kasus Per September 2019
Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada periode Januari sampai September 2019 di Kota Denpasar meningkat drastis dibandingkan tahun sebelumnya.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada periode Januari sampai September 2019 di Kota Denpasar meningkat drastis dibandingkan tahun sebelumnya.
Dengan keadaan ini, warga diminta tetap waspada dengan cara melakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M yakni menguras, mengubur, dan menutup barang bekas yang dapat menampung air hujan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, Luh Putu Sri Armini, pada Selasa (22/10/2019) mengatakan untuk periode Januari sampai September 2019 terjadi sebanyak 1.144 kasus dengan insiden rate 120,79 per 100.000 penduduk.
Jumlah ini meningkat dibandingkan pada periode sama tahun 2018 lalu.
• Pengendara di Bawah Umur Jadi Sasaran Operasi Zebra Agung 2019
• Mahalini Raharja Segera Ikuti Karantina di Jakarta, Wakili Bali dalam Ajang Indonesia Idol 2019
Tercatat pada tahun 2018, kasus DBD sebanyak 90 kasus atau insiden rate 9,67 per 100.000 penduduk.
Sebelumnya pada tahun 2017 kasus demam berdarah sebanyak 928 kasus.
Pada tahun ini desa yang masih cukup rawan terjangkit DBD, di antaranya Sanur Kaja sebanyak 40 kasus, Kelurahan Sanur sebanyak 60 kasus, Padangsambian Kaja sebanyak 65 kasus, Peguyangan Kaja sebanyak 24 kasus, Sanur Kauh sebanyak 45 kasus, Renon 50 kasus, Peguyangan Kangin 35 kasus, Padangsambian 74 kasus, Sesetan 21 kasus, dan Sidakarya 43 kasus.
"Jika dilihat maka Kecamatan Denpasar Barat yang cukup banyak kasusnya," kata Sri Armini.
Menurut Armini, peningkatan kasus DB tahun 2019 ini disebabkan oleh siklus 3 tahunan.
"Ini karena di dalam penanganannya yang sulit kendalikan yakni masalah cuaca yang berpengaruh terhadap kenaikan, dan memang WHO mengatakan ada siklus tiga tahunan maupun lima tahunan," katanya.
Walaupun demikian menurut Armini, jika dibandingkan dengan tiga tahun lalu yakni 2016 terjadi penurunan kasus.
• Telan Anggaran Rp 1,6 Miliar, Taman Kota di Depan GWS Tabanan Mulai Ditata
• Manfaatkan Limbah Domestik sebagai Pupuk Hayati, Mahasiswa Unhi Raih Juara I di Kancah Nasional
Tahun 2016 hingga bulan Juni tercatat ada 1500 kasus.
Armini juga mengimbau masyarakat agar menjaga diri serta lingkungan agar tidak ada air tergenang yang memungkinkan berkembangnya nyamuk aedes aegpti.
"Sementara untuk desa yang masuk zona merah DBD itu akan kami evaluasi supaya lebih rajin turun untuk pengendalian lebih intens di lapangan. Untuk para Jumantik (Juru Pemantau Jentik) agar terus turun memberikan penyuluhan karena daerah kita heterogen, banyak penduduk keluar masuk Denpasar," katanya.
Untuk jumlah Jumantik di Kota Denpasar sebanyak 431 orang dengan 43 koordinator. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kepala-dinas-kesehatan-kota-denpasar-luh-putu-sri-armini.jpg)