Tumpek Wayang - Inilah Kisah Mitologis Tentang Sapuh Leger, Bhatara Kala Ingin Memakan Adiknya

Bagi yang lahir wuku Wayang biasanya melakukan ruwatan yang disebut Sapuh Leger.

Tumpek Wayang - Inilah Kisah Mitologis Tentang Sapuh Leger, Bhatara Kala Ingin Memakan Adiknya
Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara
Bertepatan dengan hari Tumpek Wayang, ratusan pemedek mengikuti ritual Pebayuhan Sapuh Leger massal di Pesraman Agung Indra Prasta Banjar Pejengaji, Tegallalang, Gianyar, Sabtu (20/4/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Hari ini, Sabtu (16/11/2019) merupakan Tumpek Wayang.

Dirayakan setiap enam bulan sekali yakni Sabtu Kliwon wuku Wayang.

Bagi yang lahir wuku Wayang biasanya melakukan ruwatan yang disebut Sapuh Leger.

Ritual ini erat kaitannya dengan cerita Rare Kumara dan Bhatara Kala.

Secara mitologis dan sastra Bhatara Kumara lahir pada Wuku Wayang yang juga kelahiran kakaknya Bhatara Kala.

“Sehingga karena lahir pada wuku yang sama itulah, maka Rare Kumara dianggap mamada-mada sehingga Bhatara Kala memiliki hak memakan adiknya,” kata Dosen Bahasa Bali Unud I Putu Eka Guna Yasa.

Ketika Kala meminta ijin, Bhatara Siwa tidak mengijinkan memakan atau menadah adiknya dengan alasan masih kecil, dan Siwa baru mengijinkan jika Bhatara Kumara sudah besar.

“Karena sayang pada Bhatara Rare Kumara, seketika itu Bhatara Siwa menemuinya dan diberikan anugerah yaitu akan tetap kecil, sehingga tidak dimakan oleh kakaknya,” imbuh Guna.

Berikut cerita ringkasnya terkait cerita dilaksanakannya Sapuh Leger.

Diceritakan bahwa Bhatara Siwa atau Bhatara Guru memiliki dua orang putra yaitu Bhatara Kala dan Sang Hyang Rare Kumara yang lahir pada minggu yang sama yaitu wuku wayang.

Kala marah karena adiknya memiliki otonan yang sama dan meminta ijin kepada ayahnya untuk memakannya.

Siwa memberitahu Kala untuk menunggu selama tujuh tahun, karena adiknya masih bayi.

Dengan perasaan sedih Siwa memanggil Kumara dan memberitahu dia tentang maksud Kala, karena tidak bisa dicegah.

Kemudian Siwa mengutuk (pastu) Kumara untuk tetap kecil (kerdil) tidak pernah dewasa.

Tujuh tahun kemudian, Kala bermaksud akan memakan Kumara, dan Siwa meminta Kumara untuk mengungsi ke Kerajaan Kertanegara.

Akan tetapi, Kala mencium tapak kaki Kumara sehingga Kala pun mengejar Kumara.

Kala menemukan adiknya lari terbirit-birit, namun Kumara lolos melalui serangkaian tipuan.

Ia sempat bersembunyi dalam rimbun bambu (buluh), bersembunyi dalam kayu bakar yang tidak diikat, lolos melalui tungku perapian.

Raja Maya Sura yang bertahta di Kertanegara melindungi Rare Kumara, akan tetapi raja dan prajuritnya berhasil dikalahkan oleh Kala.

Hingga malam, Kumara sampai di tempat pertunjukan wayang kulit yang diadakan wuku wayang dan meminta perlindungan pada sang dalang.

Dalang menyuruh dia bersembunyi di resonator gamelan gender.

Kala lalu datang ke sana dan memakan sesaji untuk pertunjukan wayang karena saking laparnya.

Dalang itu kemudian menegur Kala dan meminta supaya sesaji itu dikembalikan seperti semula.

Kala terpojok dan mengaku sangat berhutang kepada dalang, dan Kala menganugrahi sebuah mantra magis yang bisa memberi dalang kemampuan untuk membebaskan semua makhluk hidup dari kekotoran.

Sebagai balasannya, dalang menghaturkan sesaji sebagai ganti anak yang dilahirkan pada tumpek wayang.

Kala mengikuti dan kemudian pergi.

Kumara dibawa kembali ke kahyangan oleh Siwa dan Uma.

Menurut Guna Yasa, dalang merupakan Siwa yang ada di dunia, karena dalam kakawin Arjuna Wiwaha ada ungkapan seseorang yang suci hanya berbataskan kelir dengan Bhatara Siwa.

“Ahletan kelir sira saking sang hyang jagat karana. Kalau kelir yang dimaksud kita angggap sebagai kelir wayang, maka Bhatara Siwa yang dianggap berbatasan dengan kita kan dalang,” kata Guna.

Sehingga dalam sapuh leger di bali jelas tirta dari dalang merupakan tirta Siwa.

Selain itu, dalang juga memainkan semua peran, baik jahat maupun baik.

“Dalang mengambil satu-satu tokoh wayang, nyiatang, ada yang menang ada yang kalah, sampai memasukkan ke keropak yang namanya kehidupan. Dari utpti mengambil wayang, nytiti ketika memainkan tokoh, pralina ketika mengembalikan tokoh ke kropak, sehingga peranan dalang sama dengan peranan Bhatara Siwa sehingga dalam kakawin Arjuna Wiwaha disebut Sang Hyang Jagat Karana. Jagat kan dunia, karana kan yg menyebabkan. Kenapa yang lahir wuku wayang harus dapat tirta dari dalang, karena dalang simbol keduniaan yang bisa kita lihat secara sekala. Tapi secara filosofis kita nunas tirta Siwa, karena dalang nyekala kita lihat berperan sebagai Sang Hyang Jagat Karana,” imbuh Guna. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved