SPIB Akan Adakan Aksi di Dipta, Suarakan Penahanan Andre

Satu dari tiga suporter Indonesia asal Bali sampai detik ini masih ditahan oleh Polis Diraja Malaysia (PDRM).

SPIB Akan Adakan Aksi di Dipta, Suarakan Penahanan Andre
Tribun Bali/M. Firdian Sani
Iyan Prada Wibowo saat bertemu dengan rekan media sesaat dirinya sampai rumah di jalan Pemuda nomor 1 Renon Denpasar, Bali, Senin (25/11/2019) malam. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, M. Firdian Sani

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Satu dari tiga suporter Indonesia asal Bali sampai detik ini masih ditahan oleh Polis Diraja Malaysia (PDRM).

Ia adalah Andreas yang ditangkap saat hendak menonton pertandingan Indonesia vs Malaysia di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Selasa (19/11/2019) lantaran dugaan kasus teror bom.

Ia ditangkap bersama dua rekannya yakni Iyan Prada Pribowo, Ketua Suporter Indonesia Pulau Bali (SIPB) dan Rifki Choirudin.

Selaku ketua SIPB, jika sampai awal Desember sahabatnya itu tak kunjung dibebaskan, Iyan mengatakan akan menggelar aksi untuk menyuarakan kebebasan kawannya itu.

Posisinya Nyempil, Vila Mewah di Pancardawa Jembrana Diamuk Api

Nurhayati Bisa Dipenjarakan Karena Buang Limbah di Tukad Badung, Hari Ini Usaha Sablonnya Disegel

TPA Besar Bakal Dibangun di Canggu, Ini Skenario Pemkab Badung Tangani Peliknya Masalah Sampah

"Kami akan aksi tanggal 1 Desember 2019, akan ada aksi di seluruh suporter Indonesia terutama di Surabaya. Kami tanggal 1 pas lawan Madrid di stadion Dipta," katanya saat ditemui Tribun Bali di IMB, jalan Tegal Wangi nomor 62.

Aksi akan tetap dilaksanakan sekalipun kalau Panpel tidak mengizinkan untuk menggelar aksi.

"Kalau misalnya panpel tidak mengizinkan kita membentangkan spanduk 'Bebaskan kawan kami' kalau memang itu misalnya tidak dibolehkan, kami akan ribut sama panpelnya, akan perang sama panpelnya. Itu tidak ada kata rasis, itu suatu bentuk solidaritas kami untuk dukungan kami terhadap teman, kalau itu dilarang berarti dia penghianat. Ada apa dengan di balik larangan itu," tegasnya.

Ia berharap kebebasan kawannya itu sesegera mungkin direalisasikan karena memang mereka tidak ada unsur terorisme.

"Mau gak mau harus dibebaskan, karena kawan kami itu bener-bener murni tidak ada hubungannya dengan radikalisme, tidak ada alur terorisme, tidak ada niat. Itu hanya candaan," jelasnya.

Sosok Ini Bocorkan Keberdaan Sang Suami di Apartemen Marshanda, Begini Reaksi Karen Pooroe

Rampok WNA Jepang Mengaku Kantongi Uang Rp 20 Juta, Kalung Emas, dan 5 ATM Sebelum Pulang Kampung

Punya Banyak Bendungan, Bali Tetap Dalam Teror Nyata Krisis Air Bersih

Selain aksi, jalur hukum juga akan ditempuh oleh Suporter Indonesia Pulau Bali dengan menggandeng Polda Bali supaya proses pembebasan berjalan cepat.

"Tadi malam rencananya saya mau ke polda. Cuma karena saya dapat telefon dari teman-teman suporter Indonesia di Malaysia kalau akan ada rapat dengan KBRI dan kemenlu, makanya saya batalkan, masih menunggu hasil rapat itu," ujarnya.

Terdapat 2882 PAUD di Bali, Namun Baru 1443 yang Terakreditasi

Sudah Viral di Bali Video 40 Detik Pesta Seks Satu Wanita Layani 3 Lelaki, Begini Langkah Polisi

Secara hukum ia mengatakan memang sahabatnya itu harus mengikuti prosedur hukum di Malaysia selama 14 hari dan ia masih menunggu keputusan dari Mahkamah Agung.

"Maksimal tanggal 6, minimal tanggal 28 atau tanggal 2 itu keputusan Mahkamah entah itu dibebaskan atau dipenjara," jelasnya. (*)

Penulis: M. Firdian Sani
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved