Hari AIDS Sedunia
Kisah Penderita HIV yang Bangkit Setelah Suami Meninggal dan Diusir dari Keluarga
"Saya Arini. Saya terdiagnosa HIV positif tahun 2013". Demikian Arini memperkenalkan diri dalam acara Indonesian AIDS Conference
Arini tidak ingin ketika meninggal dunia nanti, ia mewariskan utang bagi anak semata wayangnya.
Upaya Arini berbuah hasil.
Melalui kerja kerasnya, seluruh utang dapat ia lunasi dalam dua tahun.
• Realisasi Penerimaan Pajak Rp 9,6 Triliun Naik 15%, Kanwil DJP Bali Lampaui Penerimaan Nasional
• Cari Secara Spesifik, Berikut 12 Tips Jitu untuk Dapatkan Beasiswa Dalam dan Luar Negeri
• Berisi Saldo Rp 7,6 Juta, Begini Cara Dapatkan Kartu Pra Kerja yang Dibagikan Maret 2020 Mendatang
HIV It’s Nothing
Setelah divonis HIV positif, Arini makin menjaga pola hidupnya.
Ia dan anaknya tidak mengonsumsi makanan yang mengandung gluten dan mengonsumsi lebih banyak sayur serta buah.
"Anak saya pencernaannya lemah, saya sendiri survivor kanker. Ketika saya (berhasil) hidup dari kanker, HIV itu it’s nothing," ungkap dia.
Orang yang hidup dengan HIV (Odhiv) bisa melakukan kegiatan apapun dan berprestasi, asalkan sehat.
Bahkan Odhiv bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan diakui.
Seperti dirinya yang pernah bekerja di perusahaan besar dan memegang jabatan yang lumayan tinggi.
Semua orang di kantor menghargai Arini meski dengan terang-terangan membuka statusnya sebagai HIV positif.
Bahkan suatu hari saat meeting, obat ARV yang wajib dikonsumsinya tertinggal di rumah.
Atasannya pun menugaskan pesuruh di perusahaan untuk mengambil obat tersebut.
"Jadi kalau perusahaan mau menggunakan potensi saya, mereka juga harus terima penyakit saya. Satu paket," imbuh lulusan SMAN 2 Kotabumi itu.
Kebiasaannya menjalani pola hidup sehat ia tuangkan dalam bentuk buku berjudul "Hidup Sehat Bebas Gluten".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-hiv11_20170306_144726.jpg)