BBPOM di Denpasar

BBPOM Masih Temukan Pewarna Makanan Berbahaya pada Jajan Tradisional Bali

BBPOM di Denpasar masih menemukan bahan pewarna makanan berbahaya berupa rodhamin B atau kesumbe merah di jajanan tradisional Bali.

BBPOM Masih Temukan Pewarna Makanan Berbahaya pada Jajan Tradisional Bali
Tribun Bali
Ilustrasi jaje Bali 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Denpasar masih menemukan bahan pewarna makanan berbahaya berupa rodhamin B atau kesumbe merah di jajanan tradisional Bali.

Berbagai jajanan tradisional Bali yang ditemukan mengandung Rodhamin B seperti apem, jaja matahari, jaja gina dan sebagainya.

"Temuan kita sih banyak di makanan tradisional," kata Kepala Bidang Pemeriksaan BBPOM Denpasar Desak Ketut Andika di Denpasar,Bali,  Rabu (8/1/2020).

Ia mengatakan, penggunaan bahan pewarna berbahaya ini lebih banyak ditemukan pada saat hari raya umat Hindu seperti Galungan dan Nyepi.

Niniku Kemas Keaslian Rasa Jaje Bali Jadi Lebih Menarik

BBPOM Denpasar Bina 8 Pasar Tradisional di Bali, Upaya Pengawasan Peredaran Pangan Berbahaya

Desak mengatakan, terkait adanya temuan pewarna berbahaya ini, pihaknya sudah melakukan pembinaan kepada para pedagang, terutama yang berada di sentra pembuatan makanan tersebut.

Selain itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Dewa Made Indra juga sudah mengeluarkan surat edaran untuk menarik bahan pangan berbahaya tersebut.

BBPOM Denpasar juga telah membentuk adanya Kader Keamanan Pangan Desa serta pembentukan Satuan Karya Pramuka Pengawas Obat dan Makanan (Saka POM) guna mengawasi peredaran bahan pangan berbahaya tersebut.

"Jadi sudah semua kita lakukan selama bertahun-tahun," tuturnya.

Desak berharap, pada tahun 2020 ini penggunaan bahan pewarna makanan berbahaya seperti Rodhamin B ini bisa jauh berkurang dari tahun sebelumnya.

Hal itu dikarenakan pada 2019 lalu BBPOM Denpasar sudah melakukan pembinaan sampai ke tingkat pabrik pewarnanya.

"Makanya kita berharap di 2020 ini sudah jauh berkurang. Karena pemasok pewarnanya sudah dilakukan pembinaan dengan cara pemusnahan barang," tuturnya.

Ia mengatakan, temuan rodhamin B ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan temuan bahan makanan lain seperti boraks dan formalin.

Desak berujar, temuan boraks dan formalin di Bali memang masih ada, namun sudah jauh lebih kecil dibandingkan dengan rodhamin B.

"Yang tetap bertahan kan di rhodamin B ini," katanya. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved