BBPOM di Denpasar

BBPOM Denpasar Bina 8 Pasar Tradisional di Bali, Upaya Pengawasan Peredaran Pangan Berbahaya

BBPOM Denpasar secara intens terus melakukan pengawasan terhadap pangan berbahaya

BBPOM Denpasar Bina 8 Pasar Tradisional di Bali, Upaya Pengawasan Peredaran Pangan Berbahaya
Tribun Bali/Eurazmy
Petugas BBPOM Denpasar menunjukkan contoh temuan jajanan tradisional menggunakan zat pewarna kimia berbahaya, Kamis (12/4/2018). BBPOM Denpasar Bina 8 Pasar Tradisional di Bali, Upaya Pengawasan Peredaran Pangan Berbahaya 

BBPOM Denpasar Bina 8 Pasar Tradisional di Bali, Upaya Pengawasan Peredaran Pangan Berbahaya

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Denpasar secara intens terus melakukan pengawasan terhadap pangan berbahaya.

Salah satu upaya yang dilakukan yaitu melakukan pembinaan terhadap berbagai pasar tradisional yang ada di Bali.

Kepala Bidang Pemeriksaan BBPOM Denpasar Desak Ketut Andika mengatakan, sampai saat ini pihaknya secara terus-menerus melakukan pembinaan terhadap 8 pasar tradisional di Bali.

8 pasar itu di antaranya Pasar Agung, Pasar Nyanglan, Pasar Sindu, Pasar Intaran di Kota Denpasar; Pasar Amlapura Timur di Karangasem; Pasar Kediri di Tabanan; Pasar Umum Gianyar dan Pasar Kayuambua di Bangli.

BBPOM Denpasar Temukan 2.968 Kemasan Tidak Sesuai Ketentuan

Temuan BBPOM Denpasar, Jajanan Tradisional Bali Banyak Mengandung Bahan Berbahaya

8 pasar binaan BBPOM Denpasar itu sudah memiliki fasilitator yang bisa melakukan pengujian terhadap berbagai produk makanan yang dijual.

"Sebenarnya kuncinya kan di kepala pasarnya. Kalau tegas kepala pasarnya, ya bisa dicegah bahan berbahayanya," kata Desak di Denpasar, Rabu (8/1/2020).

Dijelaskan olehnya, bahan pangan berbahaya seperti Rhodamin B (kesumbe merah) masih banyak ditemukan di Bali.

Bahan kesumbe merah ini, banyak ditemukan pada jajanan tradisional Bali seperti apem, jaja matahari, jaja gina dan sebagainya.

Riset BBPOM Terbaru: Arak dari Karangasem dan Buleleng Tak Mengandung Metanol

BBPOM Denpasar Sita Kopi Penambah Stamina, Izin Edar dan Nomor Registrasinya Fiktif

Penggunaan bahan makanan berbahaya tersebut dapat berefek jangka panjang, bahkan bisa menimbulkan penyakit seperti kanker.

Desak berharap tahun 2020 ini penggunaan bahan pewarna makanan berbahaya seperti Rhodamin B ini bisa jauh berkurang dari tahun sebelumnya.

Hal itu dikarenakan pada 2019 lalu BBPOM Denpasar sudah melakukan pembinaan sampai ke tingkat pabrik pewarnanya.

"Makanya kita berharap 2020 ini sudah jauh berkurang. Karena pemasok pewarnanya sudah dilakukan pembinaan dengan cara pemusnahan barang," tuturnya.

(*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved