Wiki Bali

WIKI BALI - Suku Melayu Loloan Melakukan Ritual Ini Sebelum Membangun Rumah Panggung

Ritual Memakai Boreh Suku Melayu Loloan Sebelum Membangun Rumah Panggung, Ada Petaka Jika Tak Pakai Boreh

WIKI BALI - Suku Melayu Loloan Melakukan Ritual Ini Sebelum Membangun Rumah Panggung
TRIBUN BALI/NOVIANA WINDRI
Foto: Kepala Lingkungan Loloan Timur, Muztahidin saat ditemu di kediamannya di Loloan Timur, Jembrana, Rabu (15/1/2020) malam 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA – Setiap masyarakat yang bermukin di suatu daerah memiliki ritual tersendiri untuk menghormati leluhur atau alam sekitar.

Dalam membangun rumah pun memiliki ritual yang harus dilakukan, jika tidak dilaksanakan dipercaya akan membawa petaka dalam masayarakat atau orang yang bersangkutan.

Seperti selametan atau selamatan adalah tradisi yang paling sering dilakukan oleh masyarakat Jawa.

Atau upacara Yadnya yang dilakukan dalam membangun rumah adat Bali.

Disebut Jelmaan Selendang Dang Hyang Nirartha, Ular Suci Tanah Lot 3 Kali Lebih Beracun dari Kobra

Bingung Cara Menghilangkan Bruntusan? Ini 9 Cara Sederhana Menghilangkan Bruntusan di Pipi

Kabar Menyedihkan Soraya Haque, Suami Terbaring Sakit Dengan Banyak Selang di Tubuhnya

Masyarakat Loloan di Jembrana, Bali juga memiliki ritual sebelum membangun atau membongkar rumah panggung, rumah adat suku Melayu Loloan.

Kepala Lingkungan Loloan Timur, Muztahidin menjelaskan bahwa di Kampung Loloan, Jembrana juga masih melaksanakan ritual-ritual termasuk ritual sebelum membangun atau hendak membongkar rumah panggung.

 “Kalau zaman sekarang mau bongkar rumah panggung ya tinggal bongkar saja. Tidak perlu memakai lulur dan segala macam. Tetapi kalau tidak pakai, entah kenapa ada saja yang celaka. Entah sugesti atau memang ada ritual karena rumah panggung ini sakral atau bagaimana,” jelasnya.

Ritual yang dimaksud yaitu dengan memakai boreh atau sejenis lulur dari tepung beras dan kunyit.

Yang kemudian dioleskan ke bagaian tubuh yaitu wajah, tangan dan kaki.

“Setiap mau membangun atau membongkar rumah harus membaca Bismillah terlebih dahulu dan memakai boreh yang dilulurkan ke salah satu bagian tubuh misalnya wajah atau tangan. Itu agar tidak celaka saja. Itu sugesti dan ritual kami di sini. Ritual kecil ini yang masih dilaksanakan sampai sekarang,” sambungnya.

Jika tidak dilaksanakan ritual tersebut, dipercaya akan menimbulkan petaka untuk orang-orang yang membangun atau membongkar rumah panggung.

“Ada saja pasti kejadian kalau tidak melaksanakan ritual. Saya dulu pernah iku bongkar, ada salah satu warga yang tidak memakai boreh. Ya lengannya robek itu karena jatuh dari atas rumah. Kembali lagi ke individu mau percaya atau tidak. Tetapi kami yang di Loloan masih menjalankan ritual-ritual itu,”  ujarnya.(*)

Penulis: Noviana Windri
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved