Kebun Raya Bali Tempat Wisata Edukatif Taman Usada, Wujud LIPI dalam Konservasi Tumbuhan Obat

Kebun Raya Bali Tempat Wisata Edukatif Taman Usada, Wujud LIPI dalam Konservasi Tumbuhan Obat Tradisional Bali

Kebun Raya Bali Tempat Wisata Edukatif Taman Usada, Wujud LIPI dalam Konservasi Tumbuhan Obat
Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Foto : Sejumlah kegiatan LIPI di Kebun Raya Eka Karya Bali di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Sabtu (18/1/2020). 
 
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Kebun Raya Bedugul yang berada di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali, merupakan salah satu dari lima Kebun Raya yang dikelola Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Ada 2.500 koleksi tanaman dan tumbuhan berbagai jenis di kebun raya Bali ini.
Dan juga memiliki koleksi khas sebanyak 300 jenis tumbuhan untuk pengobatan tradisional masyarakat Bali di Taman Tematik Taman Usada.
Kedepannya, pihak Kebun Raya Eka Karya ini akan lebih mengembangkan story telling atau konsep.
Dalam kesempatan ini, pihak LIPI serta Mitra Natura Raya langsung mengunjungi Kebun Raya Eka Karya Bali.
Mereka diantaranya Pelaksana Tugas Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Yan Riyanto, Kepala Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI, Hendrian, serta Direksi Mitra Natura Raya, Sri Mulyani.
Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk mengunjungi sejumlah tempat yang ada di kebun raya seperti ke kebun koleksi anggrek, koleksi kaktus, taman begonia, serta beberapa tempat lainnya.
Tujuannya adalah untuk melihat langsung pelayanan publik ke tempat yang selama ini menjadi wahana konservasi, penelitian, pendidikan, jasa lingkungan, serta wisata.
Kepala Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI, Hendrian menjelaskan, Kebun Raya memiliki fungsi sebagai wahana konservasi, penelitian, pendidikan, jasa lingkungan, serta wisata.
Dan pihaknya menyatakan berkomitmen penuh untuk meningkatkan dalam hal pelayanan publik dan melihat langsung bagaimana pelaksanannya langsung. 
Sejauh mana apresiasi masyarakat terhadap Kebun Raya Bali?
Ia mengatakan, apersiasi atau perhatian terhadap Kebun Raya dari masyarakat bisa dilihat dari jumlah pengunjung yang datang.
Contohnya di Kebun Raya Bogor, di sana ada sekitar 1.3 Juta pengunjung per tahun.
Itu menunjukan animo masyarakat terhadap kebun raya.
Hanya saja, pihaknya tak puas berhenti di sana, target kami bukan semata mata meningkatkan jumlah pengunjung, tapi ada yang lebih penting dari hal tersebut atau konten lebih baik yang perlu disajikan ke pengunjung.
Salah satu contohnya, bagaimana kita berusaha untuk meningkatkan awaraness (kesadaran) dan kepedulian masyarakat banyak terhadap konservasi.
"Jadi warga yang datang ke kebun raya tak semata-mata hanya kegiatan wisata. Tapi juga ada muatan edukatif, nilai konservasi yang bisa disisipkan di dalam pelayanan publik dari kebun raya kepada masyarakat," ucapnya, Sabtu (18/1/2020).
Untuk mewujudkan hal tersebut, pihaknya yang dibantu oleh mitra sedang menyiapkan paket pendidikan lingkungan, paket wisata, dan termasuk yang sederhana adalah sedang mendesain beberapa papan interpretasi.
Kemudian beberapa taman tematik juga sedang direvitalisasi.
Sehingga, tidak hanya aspek estetika dan wisata yang bisa ditemukan di kebun raya, tetapi ada muatan edukatif juga.
"Mudah mudahan bisa mencerdaskan dan menambah wawasan terkait apa itu konservasi, bagaimana tanaman yang ada di kebun raya didatangkan dari habitat aslinya, dan sebagainya lagi," harapnya.
Ia berujar, sejatinya ingin banyak pihak yang terlibat dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas dan fungsi Kebun Raya termasuk tugas fungsi di dalam edukasi dan wisata.
Sehingga bekerjasama dengan PT Mitra Natura Raya yang membantu dalam operasionalisasi dalam beberapa kegiatan khususnya dalam hal pelayanan publik.
"Prinsipnya kita tak bisa  melakukan ini sendirian. Semakin pihak yang bekerjasama, saya kira itu sebuah langkah yang baik. Sehingga mudah mudahan keinginan kita untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik bisa dikakukan," imbuhnya. 
Bagaiman peran Kebun Raya terkait rencana pembangunan taman tanaman obat oleh Gubernur Bali ?
Hendrian mengaku sangat senang bila banyak inisiatif untuk baik membangun kebun raya di daerah maupun pelaksanaan konservasi tumbuhan.
Karena Kebun Raya telah memiliki pengalaman cukup panjang dalam hal konservasi tumbuhan, tentunya akan dengan senang hati berbagi pengalaman tersebut serta data yang dimiliki untuk mendukung pelaksanaan pembangunan kebun raya daerah tersebut. 
"Artinya secara substansi kami dengan senang hati membantu bagi kawan kawan atau pihak lain yang tertarik untuk melaksanakan atau ikut serta dalam pelaksanaan konservasi tumbuhan di Indonesia," ujarnya.
Kepala Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Eka Karya Bali LIPI, Didit Okta Pribadi menyatakan, saat ini Kebun Raya Bali tengah menerapkan konsep sustainable eco-tourism.
"Revitalisasi Taman Usada ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan budaya dan konservasi tumbuhan obat tradisional Bali bagi wisatawan yang berkunjung ke Kebun Raya Bali," katanya. 
Didit melanjutkan, untuk pengembangan kedepannya juga memandang dari beberapa sisi. Jika dari sisi habitat kita di Bali adalah dataran tinggi kering.
Namun, khas lainnya Bali adalah kuat di culture, dan konservasi merupakan bagian penting dari culture. 
"Di sini culture sudah terbentuk kuat. berbagai kegiatan upacara dan obat tradisional itu sangat dekat dengan tumbuhan. Jadi selaras dengan tuhan, alam, dan sesama manusia," katanya
Ia juga menyebutkan tanaman upacara sudah ada juga dengan taman usada dengan jumlah koleksinya mendekati dengan jumlah 500 lontar Bali, dan saat ini sudah ada sekitar 300 spesimen.
Didit melanjutkan, karena tanaman dan culture menjadi satu kesatuan (tak bisa dipisahkan) sehingga kedepannya kita harus memperkuat dengan membangun story tellingnya.
Selama ini, kita di Kebun Raya Bali kan hampir sama dengan kebun raya lainnya seperti mengumpulkan tanaman hingga datanya lengkap. 
"Tapi disini memiliki keinginan kita agar culturenya masuk atau story telingnya masuk. Bahwa tanaman ini digunakan upacara ini, manfaatnya ini, punya fungsi ini dan lain sebagainya. Sehingga ketika story telling tersebut berjalan, sehingga nanti mereka yang berkunjung ke sini bukan hanya karena tempat instagramable saja tapi pengunjung datang kesini karena tertarik story teling tersebut karena mereka bisa sambil belajar. Jadi yang paling penting bagi kita adalah edukasinya tersebut, jadi bagaimana orang perduli terhadap konservasi. Dan itu akan sangat kuat jika dilekatkan dengan Culture Sosialnya itu," jelasnya. 
Kunjungan selama ini ke Kebun Raya Eka Karya mencapai di angka 600 ribu pertahunnya.
Dominasi masih dengan kunjungan warga lokal, dan diharapkan dengan kerjasama MNR serta pengembangan story telling dengan tujuan sambil belajar tersebut wisatawan asing 
"Jika wisatawan asing orang luar kan tidak hanya melihat alam saja, tapi mereka lebih tertarik dengan story telling tentang culture tersebut. Kedepannya semoga bisa membuat wisatawan mancanegara tertarik datang ke Kebun Raya Bali ini," ucapnya.(*)
Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved