Breaking News:

Di Tengah Kontroversi Tol Ketapang-Gilimanuk, Banyuwangi Ternyata Sudah Mulai Bangun Tol Trans Jawa

Tol yang menghubungkan dari Probolinggo menuju ke Banyuwangi tersebut sudah memasuki pembangunan sisi tertimur.

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: Eviera Paramita Sandi
Tribun Bali / Firizqi Irwan
Situasi Kapal Motor Penumpang (KMP) di Selat Bali pada Senin (1/10/2018) pukul 12.30 Wita. 

Jika tidak, maka tol tersebut terancam sepi peminat.

"Karena Bali Mandara ini jalan tol yang sangat tergantung pada proyek-proyek pemerintah. Kalau jalan alternatif tidak diperbaiki kan traffic-nya drop," imbuhnya.

Danang memang belum memberikan detail trase Tol Gilimanuk-Tabanan ini.

Namun yang jelas, dia menegaskan rencananya tol tersebut akan menjadi penghubung penting antar wilayah pesisir Bali.

"Itu kan dari Tabanan dulu kemudian ke daerah Denpasar. Jadi itu akan nyambung, kemungkinan besar kan merupakan sabuk Pulau Bali," urainya.

Saat ini, proyek tersebut masih dalam tahap studi kelayakan.

Danang menyebut, setidaknya perlu waktu delapan bulan untuk menyelesaikan studi kelayakan tersebut sebelum ditentukan pemberian izin prakarsa.

Pihaknya menargetkan pada akhir tahun 2020 ini proyek ini sudah mendapatkan kepastian untuk berlanjut ke proses tender atau tidak.

"Sekarang ini dokumennya ada di Ditjen Pembiayaan Infrastruktur untuk proses studi kelayakannya. Kalau memang itu disetujui nanti pasti tugas kami untuk kita tenderkan," katanya.

Tribun Bali kembali mengkonfirmasi terkait rencana ini kepada Danang, Kamis (23/1).

Danang membenarkan, namun ketika ditanya masterplan dirinya enggan berkomentar banyak.

“Kalau masterplannya, sebaiknya ditanyakan juga ke PUPR Bali atau Dishub Bali karena prinsipnya kami mendukung rencana pembangunan daerah Bali,” katanya.

Ditambahkan bahwa rencana pembangunan tol ini sudah mendapat dukungan dari pemprov.

“Prakarsa (inisiatif) dari badan usaha yang tentunya sudah mendapatkan endorsement (dukungan) dari pemprov, dan diusulkan ke PUPR,” tambah Danang.

Biar Tak Ramai

Namun saat dikonfirmasi kemarin sore, Kepala Dinas PUPR Bali, I Nyoman Astawa Riadi, menyatakan belum berani berkomentar banyak mengenai rencana penyambungan Tol Trans Jawa dengan Tol Gilimanuk-Tabanan ini.

"Sebaiknya jangan diberitakan dulu sebab kami masih fokus ke pekerjaan yang segera-segera dulu," kata Astawa saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Ditanya apakah BPJT Kementerian PUPR sempat berkonsultasi dengan Dinas PUPR Provinsi Bali terkait rencana tersebut, Astawa belum menjawab secara tegas.

"Mungkin ke Pak Gubernur sempat dikoordinasikan.

Karenanya jangan dulu diberitakan sebab mungkin Pak Gubernur mau fokus di mana dulu sekarang. Biar tidak ramai," ujarnya.

Sebelumnya, sejumlah media online nasional sudah ramai memberitakan rencana Tol Trans Jawa yang disambung dengan Tol Gilimanuk-Tabanan di Bali.

Bahkan wacana ini kini menjadi isu hangat di media-media sosial.

Wacana pembangunan tol penghubung Ketapang-Gilimanuk ini sebenarnya ulangan dari rencana pembangunan jembatan Jawa-Bali beberapa tahun lalu.

Rencana itu gagal karena ditolak masyarakat Bali. 

Alasan penolakan karena mengantisipasi kepadatan penduduk dan meningkatnya tindak kriminalitas.

Selain itu adanya kepercayaan umat Hindu di Bali mengenai cerita Mpu Sidi Mantra, yang menyebutkan Pulau Jawa dan Bali tidak boleh disambungkan.

Bila disambung maka akan terjadi malapetaka buat warga Bali.

"Awya angatepaken Jawa muang Bali, yan atep Jawa Muang Bali, rusak ikanang Bali pulina stananing hyang (Jangan sekali-sekali menyatukan Bali dengan Jawa. Kalau disatukan Bali akan rusak)," kata Ketua PHDI Bali, Prof. Dr I Gusti Ngurah Sudiana, beberapa waktu lalu.

Menurut Prof Sudiana, Jawa adalah pulau untuk politik dan Bali sebagai stana dewa, sehingga tidak boleh disambung antara Jawa dan Bali.

Ini merupakan bhisama dari Ida Mpu Sidhi Mantra. (Surya/ Tribun Bali)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved