Di Tengah Kontroversi Tol Ketapang-Gilimanuk, Banyuwangi Ternyata Sudah Mulai Bangun Tol Trans Jawa

Tol yang menghubungkan dari Probolinggo menuju ke Banyuwangi tersebut sudah memasuki pembangunan sisi tertimur.

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: Eviera Paramita Sandi
Tribun Bali / Firizqi Irwan
Situasi Kapal Motor Penumpang (KMP) di Selat Bali pada Senin (1/10/2018) pukul 12.30 Wita. 

Namun saat dikonfirmasi kemarin sore, Kepala Dinas PUPR Bali, I Nyoman Astawa Riadi, menyatakan belum berani berkomentar banyak mengenai rencana penyambungan Tol Trans Jawa dengan Tol Gilimanuk-Tabanan ini.

"Sebaiknya jangan diberitakan dulu sebab kami masih fokus ke pekerjaan yang segera-segera dulu," kata Astawa saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Ditanya apakah BPJT Kementerian PUPR sempat berkonsultasi dengan Dinas PUPR Provinsi Bali terkait rencana tersebut, Astawa belum menjawab secara tegas.

"Mungkin ke Pak Gubernur sempat dikoordinasikan.

Karenanya jangan dulu diberitakan sebab mungkin Pak Gubernur mau fokus di mana dulu sekarang. Biar tidak ramai," ujarnya.

Sebelumnya, sejumlah media online nasional sudah ramai memberitakan rencana Tol Trans Jawa yang disambung dengan Tol Gilimanuk-Tabanan di Bali.

Bahkan wacana ini kini menjadi isu hangat di media-media sosial.

Wacana pembangunan tol penghubung Ketapang-Gilimanuk ini sebenarnya ulangan dari rencana pembangunan jembatan Jawa-Bali beberapa tahun lalu.

Rencana itu gagal karena ditolak masyarakat Bali. 

Alasan penolakan karena mengantisipasi kepadatan penduduk dan meningkatnya tindak kriminalitas.

Selain itu adanya kepercayaan umat Hindu di Bali mengenai cerita Mpu Sidi Mantra, yang menyebutkan Pulau Jawa dan Bali tidak boleh disambungkan.

Bila disambung maka akan terjadi malapetaka buat warga Bali.

"Awya angatepaken Jawa muang Bali, yan atep Jawa Muang Bali, rusak ikanang Bali pulina stananing hyang (Jangan sekali-sekali menyatukan Bali dengan Jawa. Kalau disatukan Bali akan rusak)," kata Ketua PHDI Bali, Prof. Dr I Gusti Ngurah Sudiana, beberapa waktu lalu.

Menurut Prof Sudiana, Jawa adalah pulau untuk politik dan Bali sebagai stana dewa, sehingga tidak boleh disambung antara Jawa dan Bali.

Ini merupakan bhisama dari Ida Mpu Sidhi Mantra. (Surya/ Tribun Bali)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved