Sampah Dihasilkan Rumah Tangga Tapi Diselesaikan Pemerintah, Putri Suastini: Itu tidak Mendidik
Sampah Dihasilkan Rumah Tangga tapi Diselesaikan oleh Pemerintah, Putri Suastini: Itu tidak Mendidik
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Ketua Tim Penggerak Pembina Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Bali Ni Luh Putri Suastini mengatakan, urusan sampah merupakan tanggung jawab bersama.
Menurutnya, dalam persoalan sampah tidak boleh hanya dibebankan kepada pemerintah.
Padahal timbulan sampah bisa terjadi di masing-masing rumah tangga, tetapi yang menyelesaikan justru pemerintah sendiri.
“Ini tidak mendidik,” kata Putri Suastini saat ditemui di sela-sela Rapat Konsultasi TP PKK Provinsi Bali tahun 2020 di Gedung Wisma Sabha Kantor Gubernur Bali, Selasa (11/2/2020).
• Begini Himbauan Imigrasi Ngurah Rai Kepada WN China Yang Masih di Bali
• Diduga Karena Virus Corona, Harga Bawang Putih di Bangli Tembus Rp. 60 Ribu
• Pemkab Jembrana dengan PT Systemic Jalin Kerjasama Tangani Sampah, Gunakan Program STOP
Selama ini, penanganan sampah dianggapnya sudah mengalami salah pola.
Sebab sampah tidak diselesaikan di dalam rumah tangga, tetapi dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Pola seperti ini dinilai tidak dapat menyelesaikan persoalan, karena sampah hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Di satu sisi, penanganan sampah seperti ini dapat menjadi bom waktu di kemudian hari.
Bom waktu yang dimaksud yakni TPA yang digunakan dalam menimbun sampah sewaktu-waktu dapat penuh dengan sampah dan tidak bisa diisi kembali.
Dirinya mengatakan, dalam upaya penanganan sampah ini sebenarnya PKK dapat mempunyai peran yang cukup besar.
Hal itu dikarenakan sampah dapat timbul di seluruh rumah tangga utamanya di lingkungan desa.
Dalam lingkup tersebut sudah terdapat TP PKK yang dapat bersinergi dengan kepala desa untuk mencari solusi pemecahan sampah di desa masing-masing.
“Jadinya kreatif ibu PKKnya di situ. Sehingga apapun sampahnya tidak akan keluar dari desanya (yang dapat) mengotori desa lain. Bersih di desa itu sendiri,” jelasnya.
Dijelaskan olehnya, sampah memang harus dienyah atau diselesaikan di masing-masing keluarga atau maksimal di tingkat desa.
Jika sudah bisa menyelesaikan sampah sendiri maka ke depan bisa lebih bertanggungjawab dalam menghasilkan sampah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ni-luh-putri-suastini-memberikan-keterangan-kepada-awak-media.jpg)