Pengrajin Endek di Karangasem Keluhkan Sulitnya Pemasaran, Pengrajin: Hanya Andalkan Pengunjung

Hingga kini pengrajin hanya mengandalkan pengunjung (wisatawan) yang datang ke Desa Tri Eka Buana untuk melihat pembuatan minuman tradisional, arak.

Tribun Bali/Saiful Rohim
Pengrajin endek di Desa Tri Eka Buana, Kecamatan Sidemen, Karangasem, Bali terlihat membuat endek khas Tri Eka Buana. 

TRIBUN-BALI.COM, KARANGASEM  - Perajin endek di Desa Tri Eka Buana, Kecamatan Sidemen, Karangasem mengeluh lantaran sulit memasarkan hasil kerajinannya.

Hingga kini pengrajin hanya mengandalkan pengunjung (wisatawan) yang datang ke Desa Tri Eka Buana untuk melihat pembuatan minuman tradisional, arak.

Perbekel Tri Eka Buana, I Ketut Derka menjelaskan, pengrajin endek di Desa Tri Eka Buana sekitar 20 KK.

Mereka tergabung dalam kelompok Indah Lestari.

Warga memilih profesi bertenun karena merupakan warisan leluhur.

Usulan Rp 1 Miliar untuk ASN yang Pensiun, Menpan RB Ungkap Alasannya

Sudah Diajukan ke DPRD pada 2018 Lalu, Ranperda Kontribusi Wisatawan Tak Kunjung Disahkan

Jeni Ari Bercita-Cita Jadi Pedagang Sukses, Setiap Hari Keliling Kantor Jajakan Buah Nangka

Mereka ingin endek Tri Eka Buana tetap bertahan di era modernisasi, kemajuan zaman.

"Setiap minggu memproduksi. Itupun kalau seandainya ada bahan, dan modal. Biasanya pengrajin setiap hari berkumpul membahas kerajinan,"ungkap Ketut Derka, Selasa (18/2/2020).

Untuk pembuatan endek masih cara tradisional. Memakai peralatan dari kayu. Untuk hiasan sudah mengunakan pewarna.

Ditambahkan, saat ini pengrajin kesulitan memasarkan.

Pengrajin hanya mengandalkan pengunjung yang datang ke Tri Eka Buana.

Catatan Impresif Svay Rieng FC di Liga Kamboja Jadi Kewaspadaan Pelatih Bali United di AFC Cup 2020

Komplotan Geng Donky Jalani Sidang Tuntutan, Dituntut Variatif, Mohon Keringanan

Jelang Galungan, Petani Pacah Heran Harga Tidak Naik, di Pasar Dijual Rp 20 Ribu Satu Kilogram 

Ada yang menitip di warung atau toko milik saudara di Denpasar.

Padahal harga kain masih promosi, pengrajin belum cari keuntungan. Harga sekitar 100 - 200 ribu.

"Kendala pengrajin yakni pemasaran dan pendanaan. Makanya produksi kain endek nggak begitu maksimal. Pengrajin berharap ada bantuan dari pemerintah terutama di pemasaran,"harapnya.

Pihaknya janji akan terus berusaha agar proses pembuatan kain endek tetap eksis di Desa Tri Eka Buana. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved