Kasus DB Per Januari di Gianyar Capai 132, Jentik Nyamuk Banyak Ditemukan di Bekas Tebangan Bambu
Penyebab dari adanya nyamuk ini, tidak terlepas dari aktivitas masyarakat yang sepintas terkesan biasa. Seperti menebang pohon bambu atau membuang sam
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Sejak Januari 2020, Dinas Kesehatan (Dinkes) Gianyar mendapatkan laporan jumlah masyarakat yang terjangkit demam berdarah (DB) karena nyamuk aedes aegypti sebanyak 132 kasus.
Penyebab dari adanya nyamuk ini, tidak terlepas dari aktivitas masyarakat yang sepintas terkesan biasa. Seperti menebang pohon bambu atau membuang sampah sembarangan.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinkes Gianyar, Anak Agung Sukamawa, Kamis (27/2/2020) mengatakan, per Janurari 2020, terdapat 132 kasus DB yang dilaporkan puskesmas se-Gianyar.
Nilai tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan Januari 2019.
Namun demikian, hal positifnya saat ini tidak sampai ada masyarakat yang meninggal akibat DB.
• Pemda Gianyar Siapkan Bantuan dan Pembinaan untuk Turunkan Angka Kemiskinan
• Pertamina Buka Peluang Kemitraan Bisnis Pertashop di Seluruh Indonesia, Kembangkan 2 Skema
• Anggota DPR Berharap Pemerintah Arab Saudi Jelaskan Sampai Kapan Pembatasan Umroh Dilakukan
“Tahun lalu ada empat orang meninggal. Saat ini, jumlah yang kena DB meninggal, astungkara tidak ada meninggal,” ujarnya.
Namun pihaknya tidak menyebutkan data DB per Januari tahun lalu.
Kepala Dinkes Gianyar, Ida Ayu Cahyani Widyawati mengatakan, dalam menangani permasalahan DM, pihaknya saat ini tidak melakukan upacara pencegahan menggunakan fogging.
Dimana fogging dilakukan hanya untuk pemberantasan.
Dalam pencegahan ini, kata dia, pihaknya mengutamakan 3R (reduce, reuse, recycle) atau menguras air, menimbun genangan air, dan menutup tempat berpotensi adanya genangan air.
• Tapaki 232 Tahun Kota Denpasar, Rai Mantra Fokus Tingkatkan Infrastruktur & Implementasi Kreativitas
• Gubernur Bali Sebut Rakornas Bidang Politik dan PUM Bantu Pariwisata Bali yang Sedang Menurun
• Dukung Sukses Pilkada Serentak, Mendagri Buka Rakor Bidang Politik Pemerintahan Umum & Deteksi Dini
“Fogging kami hanya fungsikan untuk pemberantasan nyamuk. Untuk pencegahan kami utamakan 3R,” ujarnya.
Ida Cahyani mengatakan, berdasarkan laporan yang diterimanya terkait lokasi yang saat ini terdapat banyak sarang nyamuk, adalah bekas penebangan pohon, seperti bambu dan sebagainya.
Selain itu adalah di ban bekas.
“Kalau musim hujan, tempat perindukan nyamuk pasti banyak. Ada air tergenang, baik itu di batang pohon. Kemarin yang banyak kita temukan di Cagaan, bekas orang menebang bambu, akhirnya banyaklah di bambu itu (jentik nyamuk). Di samping itu juga kalau ada ban bekas, itu yang menjadi tempat perindukan dari nyamuk,” jelasnya.
• Volume Sampah Kiriman di Pantai Kuta Bali dan Sekitarnya Diprediksi Menurun, Begini Sebabnya
• Teka-teki Wabah Virus Corona, Beberapa Skenario Hewan Penyebar Wabah Muncul
Karena hal tersebut, pihaknya berharap masyarakat waspada terhadap tempat perindukan nyamuk.
“Jangan kita anggap sepele genangan-genangan air. Jika ditemukan tempat tergenang yang berpotensi tergenang, segera guras atau tumbun ataupun tutup, supaya tak menjadi sarang nyamuk,” tegasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/petugas-fogging-dinkes-gianyar-saat-memberantas-nyamuk-di-rumah-warga.jpg)