Ngopi Santai
Namaku Maria
“Namaku Maria. Maria Yuryevna Sharapova,” katanya malu-malu saat memperkenalkan diri.
Penulis: DionDBPutra | Editor: Eviera Paramita Sandi
Mirip kejadian melawan Sugiyama.
Sharapova tertinggal jauh 2-6 di gim pertama, menang tie break 7-6 dan menutup set ketiga dengan skor telak 6-1.
Pertanda kuat betapa Davenport kehilangan akal mengatasi ngototnya remaja dari Siberia yang justru belajar tenis sejak usia 7 tahun di Amerika Serikat.
Sihir Sharapova lagi-lagi memesona di babak final.
Bayangkan, dia menang begitu enteng atas jagoan Amerika Serikat, Serena Williams 6-1, 6-4 dalam laga tak genap 120 menit.
Sharapova juara Wimbledon 2004 sekaligus mengabadikan namanya sebagai
petenis Rusia pertama yang memenangi turnamen tersebut.
Dia membawa pulang trofi Venus Rosewater Dish.
Sharapova mengakhiri tahun 2004 dengan kemenangan pada turnamen penutup tahun, WTA Championships.
Di final dia kembali menundukkan Serena Williams (4-6, 6-2, 6-4).
Dari bulan Juni 2004 sampai dengan semifinal turnamen Wimbledon tahun 2005, Sharapova memenangi 22 pertandingan tanpa henti di lapangan rumput, termasuk menjuarai turnamen di Birmingham dan Wimbledon.
Dia pernah lama menduduki peringkat 1 WTA.
Dunia pun menyapanya ratu tenis.
Setelah juara Grand Slam pertamanya di Wimbledon 2004, Sharapova menambah koleksi prestasi dengan menjuarai US Open (2006), Australia Open (2008) dan dua kali French Open (2012 dan 2014).
Sharapova, sepanjang kariernya, telah memenangi lima gelar Grand Slam.
Meski lama berdomisili di Amerika Serikat, Sharapova tetap memegang paspor Rusia, negara yang sangat dia cintai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/maria-sharapova3.jpg)