Ngopi Santai

Namaku Maria

“Namaku Maria. Maria Yuryevna Sharapova,” katanya malu-malu saat memperkenalkan diri.

Penulis: DionDBPutra | Editor: Eviera Paramita Sandi
AFP PHOTO/ROSLAN RAHMAN
Petenis Rusia, Maria Sharapova, memberikan salam kepada penonton di National Indoor Arena setelah memenangi pertandingan melawan petenis Polandia, Agnieszka Radwanska, pada pertandingan babak penyisihan Grup Putih WTA Final, Jumat (24/10/2014). 

Wow! Lumayan bising namun penonton Wimbledon sangat menyukainya.

Dengkuran seksi itu hanya milik Sharapova.

Jangan tanya soal penampilan.

Di antara sederet petenis jelita, Sharapova tergolong modis.

Pada turnamen Grand Slam US Open 2006, misalnya, Sharapova tampil dengan kostum hitam ketat mirip gaun malam untuk pesta.

Terinspirasi dari artis Audrey Hepburn, kostum Sharapova itu berhiaskan kemulai kristal di bagian kerahnya.

Banyak yang suka namun Nike tidak memproduksinya secara massal.

Rupanya spesial buat gadis Siberia.

Di luar lapangan tenis, banyak aktivitas publik yang dilakoni Sharapova.

Sejak tahun 2007, Maria Sharapova ditunjuk sebagai duta Program Pengembangan PBB untuk bidang pemulihan Chernobyl.

Masyarakat internasional akan selalu ingat bahwa pada tahun 1986, daerah ini mengalami musibah bocornya reaktor nuklir.

Ribuan orang kehilangan nyawa dan ratusan ribu lainnya mengungsi.

Radiasi radioaktif menyebabkan banyak anak lahir cacat dan sebagian penduduk menderita kanker.

Kedua orangtua Sharapova awalnya tinggal Gomel, cuma selemparan batu dari Chernobyl.

Waswas akan penyebaran radiasi radioaktif, pasangan suami istri asal Belarusia itu memilih hijrah sebelum Sharapova lahir.

Sebagai duta Program Pengembangan PBB untuk bidang pemulihan Chernobyl, Sharapova berhasil menjalankan misinya.

Penggemar permen tentu pernah mendengar Sugarpova bahkan sudah mencicipinya.

Ya, Sharapova bersama koleganya Jeff Rubin, memproduksi permen Sugarpova.

Popularitas Maria Sharapova linear pendapatannya.

Majalah Forbes menyebut Sharapova sebagai atlet wanita berpenghasilan tertinggi selama 11 tahun berturut-turut.

Kekayaan Shaporva sebagian besar berasal dari kontrak dengan sponsor seperti Nike, Head, Porsche dan Evian and Avon.

Sharapova memang dikenal sebagai atlet dengan pesona paling “menjual” di dunia.

Titik Terendah

Namun, hidup tak selamanya manis.

Pasang surut mewarnai perjalanan karier Sharapova.

Selain prestasi menakjubkan, petenis semampai yang mengandalkan backhand dua tangan ini juga mengalami titik terendah dalam kariernya.

Pada tahun 2016, Maria Sharapova, tersandung kasus doping menjelang
turnamen Australia Open.

Sharapova divonis positif mengonsumsi melodium, zat yang telah dilarang Badan Anti-Doping Dunia (Wada) pada 1 Januari 2016.

Mantan kekasih vokalis Maroon 5, Adam Levine itu tak berkelit.

Dia mengakui perbuatannya dalam jumpa pers di Los Angeles, Amerika
Serikat, Senin (7/3/2016).

Dia menyesal telah membuat penggemarnya kecewa.

"Saya membuat kesalahan besar. Saya membiarkan fans dan tenis kecewa," katanya saat itu seperti dilansir Upi.com.

Pengakuan Sharapova mengejutkan dunia tenis.

Apalagi kurang lebih 10 tahun dia mengonsumsi melodium secara legal.

Menurut dia, zat terlarang tersebut dikonsumsi untuk menyembuhkan beberapa penyakit seperti flu dan diabetes yang merupakan penyakit keturunan keluarganya.

Akibat doping itu Maria Sharapova terkena hukuman larangan bermain selama 15 bulan.

Setelah menuntaskan masa hukuman, Sharapova sulit kembali ke performa terbaik.

Peringkatnya terus merosot hingga berada di ranking 373 dunia.

Cedera menambah deritanya.

Penampilan terakhir Sharapova di turnamen resmi adalah Wimbledon 2019.

Namun, dia mundur di babak pertama.

Menghadapi Pauline Parmentier, petenis asal Rusia itu menarik diri saat tertinggal 6-4, 6-7(4), 0-5. Sharapova menyebut cedera pada lengan kiri sebagai penyebabnya.

"Saya punya riwayat cedera tendon di lengan kiri dan itu terasa lagi di set pertama. Ini tidak mudah. Saya menempatkan diri di posisi yang cukup bagus untuk jadi bagian dari turnamen ini dan ini (mundur) bukan yang saya inginkan," kata Sharapova seperti dikutip Reuters.

Apa hendak dikata. Sehebat apapun manusia selalu mengenal batas.

Jangan paksa tubuh ketika dia minta rehat.

Hari Rabu tanggal 26 Februari 2020, Maria Sharapova mengucapkan sayonara untuk tenis
lapangan yang telah melambungkan namanya.

Setelah malang melintang selama tiga dekade, Sharapova menggantungkan raket selamanya.

Ah mengapa terasa begitu lekas?

Merinding baca kata-kata perpisahannya yang menggetarkan hati di laman Vanity Fair.

"Bagaimana Anda meninggalkan satu-satunya kehidupan yang Anda kenal? Bagaimana Anda meninggalkan permainan yang Anda cintai yang membuat tangis bahagia," tulis Sharapova.

"Bagaimana Anda meninggalkan olahraga di mana Anda menemukan keluarga, bersama dengan penggemar yang mendukung Anda selama lebih dari 28 tahun?"

"Saya baru saja melakukan ini, jadi tolong maafkan saya. Saya mengucapkan selamat tinggal untuk dunia tenis," kata Sharapova seperti dikutip Kompas.Com.

Sejumlah fansnya di Rusia dan Amerika menitikkan air mata.

Mereka takkan melihat lagi Maria beraksi di level kompetitif tenis dunia.

Sharapova pensiun dalam usia 32 tahun, sesungguhnya belum uzur buat seorang atlet tenis lapangan.

Bandingkan misalnya dengan raja tenis dari Serbia, Novak Djokovic (35) yang masih menempati peringkat nomor satu dunia di awal 2020.

Ada yang bilang menonton tenis lapangan itu membosankan.

Durasinya kadang berjam-jam. Pukulan bola ya bolak-balik begitu saja.

Beda amat ketimbang renang dan voli yang sensual, basket yang atraktif, gairah badminton apalagi hipnotis sepak bola.

Namun, kehadiran petenis jelita seperti Maria Sharapova memupus kejenuhan itu.

Menikmati tenis pada akhirnya tidak cukup andalkan logika.

Legokan rasa maka dikau akan terpukau olehnya. Jatuh hati. Selamanya.

Pada rambut ekor kudanya, dengkuran, senyum serta lirikan matanya, Maria Sharapova menghadirkan pesona.

Mereka yang jelita dan rupawan akan selalu datang dan pergi di jagat tenis dunia.

Seturut zaman bergulir.

Seiring detak waktu berlalu.

Tapi kenangan akan dikau abadi dan spesial di hati para pemujamu.

Tenis sungguh beruntung pernah memilikimu.

Terima kasih Maria. Maria Yuryevna Sharapova!

(dion db putra)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved