Breaking News:

Ngopi Santai

Namaku Maria

“Namaku Maria. Maria Yuryevna Sharapova,” katanya malu-malu saat memperkenalkan diri.

AFP PHOTO/ROSLAN RAHMAN
Petenis Rusia, Maria Sharapova, memberikan salam kepada penonton di National Indoor Arena setelah memenangi pertandingan melawan petenis Polandia, Agnieszka Radwanska, pada pertandingan babak penyisihan Grup Putih WTA Final, Jumat (24/10/2014). 

SETELAH Gabriela Sabatini memutuskan pensiun medio 1990-an, dalam usia terbilang muda, wartawan dan penulis tenis dunia sempat lama kehilangan gairah memakai diksi jelita dalam reportase mereka.

Sampai suatu hari di pertengan tahun 2004, si pirang mungil dari Siberia ini sontak menarik atensi lewat gemulai ayunan raketnya, rambut ekor kuda, sungging senyum dan terutama kiprahnya yang
mencengangkan!

Ya, tahun 2004, dalam usia akil balig, baru dua bulan mereguk indahnya momen sweet seventeen, si pirang menjuarai turnamen tenis tertua dan paling bergengsi di dunia.

Dia jawara tunggal putri turnamen Grand Slam Wimbledon edisi ke-118.

Jagat tenis terkesima. Penasaran sungguh lalu mencari tahu siapa gerangan gadis remaja dari negeri berselimut salju abadi itu?

“Namaku Maria. Maria Yuryevna Sharapova,” katanya malu-malu saat memperkenalkan diri.

Datang ke All England Lawn Tennis and Croquet Club di Wimbledon sebagai bukan siapa-siapa, di puncak pesta pada 3 Juli 2004, justru Maria Sharapova bintangnya.

Maria Sharapova menjadi pemenang ketiga termuda dalam sejarah Wimbledon.

Ia mengalahkan sejumlah nama besar yang sedang bersinar kala itu.

Di babak peremptfinal, Maria Sharapova menekuk petenis Jepang Ai Sugiyama dalam drama tiga set yang menegangkan.

Halaman
1234
Penulis: DionDBPutra
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved