Corona di Bali

PDP 09 Dipindah ke RSUD Buleleng Usai Dinyatakan Negatif Virus Corona

Pemindahan ini dilakukan, setelah hasil swab menyatakan ia negatif dari virus corona atau covid-19, namun perlu menjalani perawatan lain

Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Sekda Buleleng Gede Suyasa. 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Pasien Dalam Pengawasan (PDP) nomor 09, yang sempat dirawat di ruang isolasi RS Pratama Giri Emas, Kecamatan Sawan, kini telah dipindahkan ke RSUD Buleleng.

Pemindahan ini dilakukan, setelah hasil swab menyatakan ia negatif dari virus corona atau covid-19, namun perlu menjalani perawatan lain di RSUD Buleleng.

Demikian disampaikan Sekda Buleleng, yang juga sebagai Sekretaris Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Buleleng, Gede Suyasa, Rabu (8/4/2020) siang.

Seperti diketahui, PDP 09 sempat dicurigai terinfeksi virus corona karena sempat bepergian ke Surabaya yang menjadi salah satu wilayah transmisi lokal di Indonesia, serta menunjukan gejala batuk dan sesak nafas.

Libur Panjang, Ini Kegiatan yang Dilakukan Kiper Bali United Rakasurya saat Pulang Kampung

Klungkung Waspada Demam Berdarah Usai Dua Orang Anak Meninggal Akibat Terserang DB

"Dari hasil lab yang kami terima PDP 09 negatif dari Covid-19, sekarang yang bersangkutan di pindahkan ke RSUD Buleleng sebagai pasien umum," terangnya.

Dengan demikian, saat ini Buleleng hanya memiliki satu orang pasien positif virus corona. 

Dia adalah tenaga kerja kapal pesiar, yang diberi kode PDP 03, dan hingga saat ini masih diisolasi di RS Pratama Giri Emas.

Suyasa pun menyebut, saat ini kondisi kesehatan PDP 03 sangat stabil.

Namun setelah lima kali menjalani swab, ia dinyatakan masih positif dari virus corona, sehingga belum diperbolehkan pulang.

"Pertama dicek dua kali, hasilnya positif. Kedua dicek satu kali hasilnya negatif. Ketiga dicek lagi dua kali hasilnya positif lagi. Dia bisa dipulangkan ketika hasil swab dua kali berturut-turut negatif dari virua corona," ucapnya.

Disisi lain, Suyasa juga menyebut, dengan adanya pembatasan waktu berjualan untuk pasar tradisional, toko modern, toko klontong dan warung, menimbulkan penurinan pendapatan usaha.

Untuk itu, Suyasa mengaku saat ini pihaknya sedamg mengkaji kemungkinan akan adanya skema kebijakan meringankan pembayaran kewajiban, berupa penundaan melunasi Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2), penundaan pelunasan piutang pajak dan beberapa bentuk pembebanan lainnya.

 "Ini sudah dibahas di pusat, dan sekarang masih kami kaji kembali," katanya. (*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved