Breaking News:

Sejarah Islam di Bali

Kisah Ratu Dewi Fatimah Tak Mampu Memotong Bulu Kaki Raja Dalem Ketut di Kerajaan Gelgel

Kemudian Ratu Dewi Fatimah kembali ke Loloan (Kabupaten Jembrana, Bali) tempat mendarat semula dan pengiringnya yang muslim kembali lagi ke Gelgel

Penulis: Kambali | Editor: Kambali
Kisah Ratu Dewi Fatimah Tak Mampu Memotong Bulu Kaki Raja Dalem Ketut di Kerajaan Gelgel
Dok Drs. H. Bagenda Ali, MM
Penulis Drs. H. Bagenda Ali, MM berada di depan masjid tertua di Bali Masjid Nurul Huda di Kampung Gelgel Klungkung, Bali.

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Sejarah masuknya agama Islam di Bali para sejarawan sepakat pada masa kerajaan Gelgel, Klungkung pada abad XVI. Namun ada beberapa versi yang berbeda.

Versi pertama diawali dari datangnya Raja Dalem Ketut saudara Raja Dalem Pasuruan di bawah kekuasaan Majapahit dan berangkat dari Majapahit ke Bali dengan alasan bahwa kedatangannya itu karena mengungsi disebabkan Majapahit telah jatuh ke tangan Islam dan kemudian Raja Dalem Ketut oleh  karena akan menetap di Bali  maka beliau mendirikan Kerajaan di Bali (Klungkung).

Hal ini diungkapkan Drs. H. Bagenda Ali, MM  dalam bukunya yang berjudul “Awal Mula Muslim Di Bali” yang telah cetak pertama pada Januari 2019.

Putus Rantai Penyebaran Corona, Desa Adat Gelgel Bentuk Pararem & Denda Krama Yang Keluyuran Malam

Selama Berabad-abad, Akhirnya Upacara Ini Digelar di Pura Dadia Agung Pasek Gelgel Pegatepan

Dalam buku yang diterbitkan Penerbit Deepublish, Sleman Yogyakarta menjelaskan, beberapa tahun kemudian di awal abad ke XVI datang Ratu Dewi Fatimah yang sudah menjadi muslimah dari Majapahit dan masih saudara sepupu dengan Raja Dalem Ketut dan bersahabat dekat dengan Raja Dalem Ketut sewaktu masih ada di Majapahit.

Dari cerita rakyat ini, keinginan Ratu Dewi Fatimah gagal semuanya karena yang awalnya mau mengkhitan Raja Dalam Ketut ternyata tidak mampu memutuskan bulu kaki Raja Dalem Ketut pada saat dicobakan. Kemudian Ratu Dewi Fatimah kembali ke Loloan (Kabupaten Jembrana, Bali) tempat mendarat semula dan pengiringnya yang muslim kembali lagi ke Gelgel dan mendirikan pemukiman. Pada saat itulah di Gelgel ada pemukiman umat Islam hingga sekarang.

Puasa Ramadan Mulai Jumat 24 April 2020, Ini Panduan Ibadah Bagi Umat Islam di Bali

Ramadhan Tiba, Bimas Islam Kemenag Denpasar: Jual Takjil Via Online Demi Hindari Penyebaran Covid-19

“Pada sumber lain menyebutkan bahwa pada saat Ratu Dewi Fatimah tidak mampu memotong bulu kaki milik sang Raja yang berarti bahwa sang Raja menang maka pimpinan ekspedisi akhirnya dihukum mati dengan cara membunuh dirinya sendiri dengan keris dan dikuburkan di Desa Satra sekitar 3 kilometer (Km) dari selatan Klungkung atau 1,5 Km dari barat daya Gelgel. Kuburannya pun masih dapat kita temukan adanya,” tulis Drs. H. Bagenda Ali, MM  pada halaman 52 di Bab IV Awal Masuknya Islam di Bali.

Menurut Kepala Desa Kampung  Gelgel, Sahidin, bahwa cerita rakyat yang ditulis dalam sejarah bahwa kematian Dewi Fatimah adalah membunuh dirinya sendiri tersebut tidaklah sepenuhnya benar. Cerita tetua masyarakat kampung Gelgel sendiri yang diwarisi secara turun-temurun mengatakan bahwa Dewi Fatimah pada saat itu sedang bertirakat di sekitar wilayah tersebut yang masih berupa hutan belantara dan kemudian dijadikannya tempat tinggal bersama pengikutnya. Sampai pada akhirnya beliau wafat di tempat tersebut dan bukan melakukan pembunuhan terhadap dirinya.

Pemuka Agama Kristen, Yahudi dan Islam di Yerusalem Doa Bersama Mohon Corona Segera Berlalu

Inilah Keutamaan Bulan Ramadhan

Versi kedua secara berkomunitas masuknya agama Islam ke Bali dimulai pada zaman kerajaan awal abad ke- XVI. Islam pertama kali masuk ke Bali melalui pusat pemerintahan zaman kekuasaan Raja Dalem Ketut Ngelesir  yang berpusat di Klungkung pada awal abad ke XVI.

“Raja Dalem Ketut Ngelesir yang berkuasa sebagai Raja Gelgel I di awal abad ke XVI, ketika Raja ini berkunjung ke Kerajaan Majapahit di Jawa Timur untuk menghadiri undangan Raja Majapahit Prabu Hayam Wuruk dalam acara konferensi kerajaan seluruh nusantara,” tulis Drs. H. Bagenda Ali, MM.  

Meskipun Berbasis Islami, Ruqyah Ternyata Bisa Layani Umat Non Muslim

Di saat  kembali lagi ke Gelgel,  diantar 40 pengawal yang beragama Islam dan didampingi dua orang ahli agama Islam. Kedua tokoh ahli agama Islam itu sudah berstatus sebagai wali yang bernama Kiai Abdul Jalil dan Raden Modin.

WIKI BALI - Makam Wali, Penyebar Agama Islam di Jembrana Bali

Mereka diizinkan untuk menetap di Bali, tanpa mendirikan kerajaan sendiri seperti halnya kerajaan Islam di pantai utara Pulau Jawa pada masa kejayaan Majapahit.  Para pengawal muslim itu hanya bertindak sebagai abdi dalam kerajaan Gelgel menempati satu pemukiman atau pelungguhan dan membangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Gelgel, yang kini merupakan tempat ibadah umat Islam tertua di Bali. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved