Saat Pandemi Covid- 19, Kasus DBD di Buleleng Tembus 1.983, Tiga Meninggal Dunia

Untuk zona merah atau jumlah penderita DBD terbanyak ada di wilayah Kecamatan Buleleng dengan total 534 kasus, disusul Kecamatan Tejakula 300 kasus.

istimewa
ILUSTRASI 

TRIBUN-BALI.COM, SINGRAJA - Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Buleleng jumlah mengkhawatirkan.

Data yang dihimpun Dinas Kesehatan Buleleng sejak Januari hingga 20 April 2020, tercatat sebanyak 1.983 orang didiagnosa terserang DBD.

Mereka tersebar di sembilan kecamatan. Dari ribuan orang itu, tiga di antaranya meninggal dunia.

Mereka masing-masing berasal dari Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada, Desa Pemaron, Kecamatan Buleleng, dan Lingkungan Banyuning Timur, Kecamatan Buleleng.

Untuk zona merah atau jumlah penderita DBD terbanyak ada di wilayah Kecamatan Buleleng dengan total 534 kasus, disusul Kecamatan Tejakula 300 kasus, selanjutnya Kecamatan Banjar 236 kasus, Sukasada 207 kasus, Seririt 199 kasus, Gerokgak 175 Kasus, Busungbiu 120 kasus, Kubutambahan 108 kasus, dan terakhir Kecamatan Sawan 104 kasus.

Dikonfirmasi melalui saluran telepon Minggu (26/4/2020), Wakil Bupati Buleleng dr I Nyoman Sutjidra mengatakan, masyarakat Buleleng memang harus waspada dengan penyakit DBD di tengah pandemi Covid-19 ini.

Karena, jumlah penderitanya sudah mencapai ribuan orang.

Pemkab, kata Sutjidra, telah menugaskan tim surveillance di Dinas Kesehatan dan masing-masing Puskesmas untuk melakukan penelusuran pada kasus-kasus DBD, melakukan fogging fokus, serta memberikan sosialisasi kepada masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan 3M (mengubur, menguras dan menutup).

"Di tengah pandemi Covid- 19, kita juga dilanda dengan DBD yang setiap lima tahun memang mencapai puncaknya. Setiap pagi-pagi sekali, kami sudah melakukan fogging dengan mobil keliling. Fogging fokus juga sudah dilakukan di lokasi kasus yang positif DBD. Kadiskes juga sudah saya intruksikan memberikan bantuan abate (obat pembunuh jentik nyamuk) untuk kolam-kolam yang tidak ada ikannya, supaya jentik tidak berkembang," papar Sutjidra.

Meski kasus DBD menghantui masyarakat Buleleng, Sutjidra tidak akan membentuk satgas khusus seperti penanganan Covid- 19.

Pihaknya hanya mengerahkan tim surveillance dari masing-masing Puskesmas, yang disupervisi oleh Dinas Kesehatan.

"Kalau Covid- 19 kan wabah, kasus luar biasa makanya ada satgas khusus. Sedangkan DBD ini kan endemis, terjadi setiap tahun saat pergantian musim. Penderita ditangani baik di Puskesmas atau rumah sakit, tim surveillance jalan melakukan penelusuran dan fogging," jelasnya. (*)

1.983 Kasus DBD
* Kecamatan Buleleng 534 kasus
* Kecamatan Tejakula 300 kasus
* Kecamatan Banjar 236 kasus
* Kecamatan Sukasada 207 kasus
* Kecamatan Seririt 199 kasus
* Kecamatan Gerokgak 175 kasus
* Kecamatan Busungbiu 120 kasus
* Kecamatan Kubutambahan 108 kasus
* Kecamatan Sawan 104 kasus

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Bambang Wiyono
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved