Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

BBM Naik

BIAYA Operasional Terancam Membengkak, Usaha Rental Mobil Mulai “Menjerit” Imbas BBM Naik

Boby mengaku masih berharap kenaikan harga BBM tidak berlangsung lama. Jika hanya terjadi dalam jangka pendek, dampaknya dinilai masih bisa ditekan.

Istimewa
TERANCAM MEMBENGKAK - Direktur Perumda Swatantra Buleleng, I Gede Boby Suryanto. Ia menyebut dampak kenaikan BBM non subsidi membuat biaya operasional usaha rental mobil perusahaan terancam membengkak. 

TRIBUN-BALI.COM - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi akibat perang di Timur Tengah, mulai memukul sektor usaha di daerah. 

Salah satunya bisnis sewa kendaraan milik Perumda Swatantra Buleleng, yang kini terancam tertekan akibat lonjakan biaya operasional.

Direktur Utama Perumda Swatantra Buleleng, I Gede Boby Suryanto, mengakui kenaikan BBM non subsidi jenis Dexlite, Pertamax Turbo hingga Pertamina Dex, berdampak langsung pada usaha rental kendaraan yang mereka kelola. Pasalnya, bahan bakar menjadi komponen utama dalam operasional harian armada.

"Kenaikan BBM ini sangat terasa bagi kami yang bergerak di bidang otomotif. Biaya operasional jelas meningkat," ujar Boby, Kamis (23/4).

Diketahui, harga Dexlite per hari ini senilai Rp23.600 per liter. Sedangkan Pertamina Dex senilai Rp23.900 per liter. Saat ini, Perumda Swatantra mengelola total 166 unit kendaraan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 38 unit menggunakan BBM jenis Dexlite dan Pertamina Dex. 

Baca juga: UMKM Jangan Hanya Jadi Objek Pungutan, DPRD Buleleng Ketok Perda Pajak–Retribusi

Baca juga: ASTAGA, Dari Saling Tatap Berujung Sayatan Pisau, Remaja SMP Terlibat Penganiayaan di Nusa Penida!

Kondisi ini jelas membuat perusahaan sangat sensitif terhadap fluktuasi harga bahan bakar. Tak hanya itu, dampak kenaikan BBM juga diperkirakan merembet ke sektor lain, seperti biaya perawatan kendaraan dan harga suku cadang.

"Biasanya kalau BBM naik, biaya servis dan onderdil juga ikut naik. Ini yang cukup berat bagi operasional kami," jelasnya.

Boby mengaku masih berharap kenaikan harga BBM tidak berlangsung lama. Jika hanya terjadi dalam jangka pendek, dampaknya dinilai masih bisa ditekan.

"Kalau hanya satu sampai dua bulan mungkin masih aman. Tapi kalau berlangsung sampai setahun, kami harus siapkan langkah antisipasi," tegasnya.

Sebagai upaya jangka panjang, Perumda Swatantra mulai melirik penggunaan kendaraan yang lebih efisien, seperti mobil hybrid hingga kendaraan listrik.

Saat ini, sebagian armada bahkan sudah menggunakan teknologi hybrid. Namun, rencana pengadaan kendaraan listrik masih membutuhkan kajian matang, terutama terkait kesiapan infrastruktur, bengkel, suku cadang hingga sistem pengisian daya. 

"Kami akan usulkan ke pemda, tapi harus dihitung betul dari sisi risiko dan jaminan layanan ke depan," pungkasnya. (mer)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved