Breaking News:

Sejarah Islam di Bali

Kampung Muslim Angantiga Bali, Kisah Para Pendekar Sakti dari Serangan dan Pelarian Seorang Gadis

Brahima kemudian memilih melarikan diri dan mengasingkan anak gadisnya ke daerah perbukitan yang kemudian dikenal dengan daerah Angantiga.

DOK. TRIBUN BALI
ILUSTRASI - Seorang warga muslim Angantiga memberikan sebungkus daging kurban kepada Jro Mangku di rumahnya banjar Angantiga, Desa Petang, Kabupaten Badung, Bali beberapa tahun lalu. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Kampung muslim di Bali yang dihuni komunitas muslim asal Sulawesi Selatan suku Bugis Makassar cenderung berada di wilayah pesisir pantai. Namun ada beberapa yang lokasinya tidak di pesisir pantai. Berikut sejarah Islam di Bali, Kampung Muslim Angantiga.

Kampung Muslim Angantiga berada di Desa Angantiga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali. Komunitas muslim yang mendiami daerah itu berasal dari Bugis. Lokasi desa ini berada di lereng perbukitan dan jauh dari pesisir pantai.

Kampung Muslim di Bali, Tanah Angker Pegayaman, Cerita Dalem Solo Beri Hadiah Gajah ke Panji Sakti

Drs. H. Bagenda Ali, MM  dalam bukunya “Awal Mula Muslim Di Bali” yang dicetak pertama pada Januari 2019, menguraikan ada dua versi sejarah kampung muslim Angantiga. Pertama menyebutkan komunitas itu berasal dari Kampung Serangan.

Diceritakan bahwa di daerah itu adalah daerah yang tidak aman baik dari perampok maupun dari gangguan makhluk aneh. Untuk mengamankan daerah itu maka penguasa di daerah itu Puri Carangsari meminta kepada Puri Mengwi untuk menempatkan pengaman.

Kisah Ratu Dewi Fatimah Tak Mampu Memotong Bulu Kaki Raja Dalem Ketut di Kerajaan Gelgel

Lalu diutuslah beberapa orang pendekar untuk tinggal di daerah itu dari Pulau Serangan. Para pendekar dari Pulau Serangan terkenal dengan ilmu dan kesaktiannya.

“Di antaranya bernama Daeng Mapilin yang lebih terkenal dengan Wak Daen, H. Jamaluddin (keduanya dari Bugis) dan seorang lagi asal Lombok yang tidak diketahui namanya,” tulis Drs. H. Bagenda Ali, MM. 

Kampung Muslim di Bali, Pelaut Bugis Sebut Serangan “Sira Angen” dan Kisah Pangeran Isa Rappe

Ia melanjutkan dalam tulisannya, versi lainnya adalah berasal dari cerita tetua Angantiga. Waktu itu, ada seorang Muslim kaya di Pulau Serangan bernama Brahima (mungkin bernama asli Ibrahim).

“Dia mempunyai anak gadis yang sangat cantik sehingga raja Mengwi yang kala itu menguasai Pulau Serangan tertarik mempersuntingnya. Namun Brahima tidak bersedia memenuhi permintaan raja,” Drs. H. Bagenda Ali, MM  dalam lanjutan tulisannya.

Pertualangan Raden Fatah ke Bali dan Balik Lagi ke Majapahit hingga Peristiwa Batara Katong

Brahima kemudian memilih melarikan diri dan mengasingkan anak gadisnya ke daerah perbukitan yang kemudian dikenal dengan daerah Angantiga. Anak gadis dengan orangtuanya itu diantar oleh tiga Pendekar yaitu, H. Jamaluddin, Daeng Mapilih dan Daeng Mangeneng. Sejak itulah untuk pertama kalinya orang Islam masuk ke kampung Angantiga.

Mushaf Al Qur’an Tulisan Tangan di Bali Ini Diperkirakan Ditulis Abad XVII, Cover dari Kulit Sapi

Kampung Muslim Kepaon  

Sementara itu, kampung muslim Kepaon di Denpasar. Awalnya kampung ini bukan dihuni oleh suku Bugis-Makassar namun orang Jawa dan Madura yaitu pengikut dan keturunan Raden Mas Sastroningrat seorang Bangsawan kelahiran Madura yang sempat kawin dengan Putri Raja Pemecutan III bernama Anak Agung Ayu Rai atau Raden Ayu Siti Khotijah (nama Islamnya) alias Raden Ayu Pemecutan. Pengikut dan keturunannya diberikan tempat di wilayah Kepaon oleh Raja Cokorde Pemecutan III.

Anak-Anak Peserta Khitanan Naik Kuda, Peringatan Maulid Nabi di Kampung Muslim Kepaon

Pada saat yang bersamaan suku Bugis yang ada di Kampung Bugis Suwung dan Serangan mengetahui tempat itu akhirnya memilih pindah bermukim di daerah itu. Mereka berdagang dan lainnya dengan alasan sama-sama beragama Islam sehingga semakin ramai dipadati.

Al Qur’an Kuno Tulisan Tangan Berumur 200 Tahun di Bali, dari Malaysia Jadi Warisan Warga Loloan

Di wilayah itu juga terjadi proses pembauran antara Suku Jawa, Madura dan Bugis sampai saat ini keturunannya masih ada di Kampung Muslim Kepaon Denpasar. (*)

Editor: Kambali
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved