Berkebun secara Hidroponik, Noja Bali Hidroponik Manfaatkan Tenaga Surya untuk Gerakkan Pompa Air
Ida Ayu Alit Maharatni bersama suami Ida Bagus Made Purwanasara memanfaatkan lahan ‘nganggur’ untuk berkebun dengan sistem hidroponik dengan nama Noja
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
“Hidroponik itu menggunakan pompa untuk mengalirkan air dan mensuplai oksigen. Otomatis pompa membutuhkan listrik, jadi listriknya kami buat mandiri dari solar panel. Ini bisa juga sebagai solusi apabila di lahan yg akan digunakan berhidroponik tdk terdapat listrik,” katanya.
• Trump Kerahkan Ribuan Tentara Bersenjata Lengkap ke Jalanan Washington Untuk Padamkan Kerusuhan
• Siswa SMP Ini Pasrah Karena Tugas dari Guru Tak Masuk Akal: Chat Donald Trump hingga Bos Facebook
Perempuan yang akrab disapa Nanik ini pun membeberkan kebutuhan listrik yang diperlukan untuk kebun hidroponiknya setiap harinya.
“Tergantung besaran masing-masing modul. Per modul biasanya perlu 70-100 watt. Kami ada sekitar 5 modul. Butuh listrik kurang lebih 300 watt. Tujuannya agar keluarga kami tidak menanggung beban dosa dari PLTU. Penggalian batu bara,” terangnya.
Nanik pun menyampaikan penggunaan tenaga surya sesungguhnya sebanding dengan penggunaan listrik PLN, jika dihitung 10 tahun kedepan.
Maka penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) jauh lebih murah.
“Secara ekologis karena kami tau sumber listrik negara salah satunya dari Coal ada perasaan nyaman saat kami menggunakan PLTS, lifestyle, ketika listrik tetangga mati rumah kami tetap terang, terpenting saat peak cahaya matahari adalah waktu yang tepat buat menggunakan peralatan elektronik kami secara gratis seperti mencuci, setrika dan masak,” tambahnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kegiatan-di-noja-bali-hidroponik-di-jalan-noja-ii-denpasar.jpg)