Harga Daging Babi Merangkak Naik, Tapi Peternak Masih Enggan Pelihara Babi, Ini Sebabnya

Banyak peternak merugi puluhan juta bahkan ratusan juta terutama peternak yang memelihara babi babi dengan jumlah banyak, hal ini terjadi

Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa
Seorang warga menunjukkan kandang ternak babi yang kosong. 

Laporan wartawan Tribun Bali, I Nyoman Mahayasa

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Setelah banyak kasus kematian babi membuat kelangkaan akan daging babi, hal itu menyebabkan harga daging babi mulai merangkak naik di pasaran  Gianyar, Sabtu (13/6/2020)

Kelangkaan daging babi disebabkan banyaknya kasus kematian babi yang disebabkan oleh dugaan terserang virus ASF, sehingga banyak peternak yang menjual babinya pada saat itu dengan harga murah karena takut babinya mati terserang virus tersebut.

Banyak peternak merugi puluhan juta bahkan ratusan juta terutama peternak yang memelihara babi babi dengan jumlah banyak, hal ini terjadi di semua Kabupaten/Kota se bali.

Bagi peternak yang bisa mempertahankan babi peliharaannya bisa untung menjual babinya saat ini .

Jumlah Pasien Covid-19 Meninggal Tertinggi Ada di Jatim, Pakar Epidemiologi Unair Ungkap 2 Penyebab

Gaji Bulanan Sering Minus? Berikut 5 Cara Kelola Gaji agar Tetap Aman di Era New Normal

Kasus Positif Covid-19 Nasional Bertambah 1.014 Hari Ini, Pasien Sembuh 563 Orang

Saat harga anjlok per kilogram babi  dihargai Rp 10 ribu, bahkan ada yang membagikan babinya secara gratis, namun saat ini langkanya babi membuat harga terus merangkak naik harga per kilonya bisa mencapai Rp 29 ribu.

Meski harga mulai merangkak naik, sebagian besar peternak masih enggan untuk mulai beternak kembali, meskipun ada sejumlah peternak yang berani beternak kembali itupun dengan jumlah lebih sedikit karena takut mengambil resiko, apalagi harga pakan yang mahal.

Ratusan kandang peternak nampak kosong.

Kelihan dinas banjar Suwat Kelod, Gianyar, Putu suwasta menunjukkan kandang babi milik peternak yang kosong

Ia mengatakan belum ada yang berani mengambil resiko untuk mulai beternak.

 "Belum tau kapan virus babi itu benar -benar hilang saat ini masih banyak warga yang belum berani beternak kembali sebelum virus tersebut benar-benar sudah hilang meski ada beberapa yang mencoba memelihara itupun dengan jumlah yang sedikit untuk mengurangi resiko " Ucapnya sambil menunjukkan kandang ternak yang kosong.  (*)

Penulis: I Nyoman Mahayasa
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved