Citizen Journalism

Layangan: Kesenangan, Korban Nyawa dan Padamkan Listrik

Beberapa hari terakhir terakhir ini kita disuguhkan oleh lemah gemulai liak liuk layang-layang dengan berbagai ukuran BESAR yang menimbulkan kerugian

Istimewa
I W Jondra, Dosen Teknik Elektro Politeknik Negeri Bali 

TRIBUN-BALI.COM - Beberapa hari terakhir terakhir ini kita disuguhkan oleh lemah gemulai liak liuk layang-layang dengan berbagai ukuran BESAR yang menimbulkan kerugian bagi orang lain.

Sebagai anugrah dari Sanghyang Rare Angon layangan sangat menghibur pemiliknya.

Namun, layangannya tak jarang memakan korban, baik korban harta benda maupun korban nyawa, listrikpun padam saat tertimpa layangan.

Penikmat indahnya langit biru pun terganggu oleh layang-layang dan menggangu produktifitas orang lain karena listrik padam.

Perkuat Perbatasan, China Kirim Petarung MMA Pasca-Bentrok dengan Tentara India

Ini Jadwal Belajar dari Rumah TVRI 29 Juni 2020, Akan Ada Acara Jalan Sesama Hingga Film Anak

Kompetisi Liga Dilanjutkan Oktober Mendatang, PSSI Keluarkan Surat Keputusan 

Keberadaan layang-layang tidak dapat dibiarkan liar seperti saat ini.

Pemerintah Daerah dan desa adat harus bersatu padu untuk mengatur dan mengendalikan layang-
layang ini.

Masyarakat, pemerintah, aparatur hukum dan PLN harus Bersatu padu untuk berubah.

Layangan dipercaya merupakan anugrah dari Sanghyang Rare Agon yang tidak lain merupakan
manivestasi Dewa Siwa untuk menghibur anak-anak.

Layangan dinaikkan oleh anak-anak setelah panen usai sambil mengembala di sawah dan menghibur, sebagai wujud syukur kepada Dewa Ciwa karena panen sudah sukses.

Indahnya tiupan seluring Dewa Siwa telah mengundang angin mendesir untuk menaikkan layangan di atas areal persawahan.

Halaman
1234
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved