Begini Cara Penanganan Penyakit Saraf Akibat Menderita Diabetes Melitus
Menurut World Health Organization (WHO), ada sekitar 900 juta orang di dunia menderita DM (12% dari populasi) pada 2015.
TRIBUN-BALI.COM - Diabetes melitus (DM) adalah penyakit metabolik dengan karakteristik kadar gula darah tinggi yang diakibatkan oleh gangguan sekresi insulin atau terjadinya resistensi insulin.
Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan ada kecenderungan peningkatan penderita DM di dunia.
Menurut World Health Organization (WHO), ada sekitar 900 juta orang di dunia menderita DM (12% dari populasi) pada 2015.
Pada tahun 2050 jumlah ini diperkirakan akan meningkat hingga mencapai 22%.
• Kegiatan Keagamaan Berpotensi Jadi Klaster Baru Penularan Covid-19, Jumlah Peserta Harus Dibatasi
• Kabareskrim: Walau Teman Satu Angkatan, Kami Tak Pernah Ragu Tindak Tegas Tanpa Pandang Bulu
• Desa Sumerta Kaja 3 Bulan Pertahankan Zona Hijau Covid-19
Di Indonesia sendiri diperkirakan jumlah penderita DM adalah 8,4 juta orang di tahun 2000, yang akan meningkat menjadi 21,3 juta orang di tahun 2030.
Pada wanita, prevalensi DM didapatkan lebih tinggi (21-32%) dibandingkan pria.
Banyak risiko komplikasi yang dapat terjadi pada penderita Diabetes Melitus, terutama dengan gula darah dan HbA1C yang tidak terkontrol dengan baik.
Itu sebabnya, Pengurus Pusat Apoteker Indonesia bekerjasama dengan klinik Hayandra dan Ispi Penerbitan melakukan webinar bertajuk Penanganan Komprehensif Penyakit Saraf terkait Diabetes Melitus pada Minggu (19/7/2020).
Anastasia Maria Loho, dokter spesialis saraf di Klinik Hayandra menjelaskan, komplikasi pada DM ini terbagi menjadi 2 yaitu komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular.
Komplikasi makrovaskular meliputi, penyakit serebrovaskular (stroke), jantung, dan gangguan pembuluh darah perifer (peripheral artery disease), sedangkan komplikasi mikrovaskular dapat berupa gangguan saraf tepi (neuropati), gangguan ginjal (nefropati) ataupun gangguan pada mata (retinopati).
"Komplikasi ini dapat terjadi multipel dan berujung pada disabilitas ringan hingga berat, bahkan kematian," jelas Dr Anastasia, Minggu (19/7/2020).
Anastasia menjelaskan bahwa penderita DM beresiko 2,3 kali mengalami stroke sumbatan dan beresiko 1,6 kali mengalami stroke perdarahan, sebagai akibat dari akumulasi inflamasi sistemik, kekakuan pembuluh darah, serta gangguan pada sel endotel pembuluh darah.
Selain stroke, sekitar 69% penderita DM mulai mengalami komplikasi neuropati pada tahun ke-5, yaitu gangguan saraf tepi yang dapat mengakibatkan gangguan sensorik seperti rasa baal, rasa kesemutan, sampai ke luka kaki diabetik yang dapat berakibat amputasi kaki.
Juga gangguan motorik ataupun otonom seperti gangguan berkemih dan buang air besar.
• Kejari Gianyar Musnahkan Barang Bukti Kejahatan, Dari Ganja Hingga Senjata Api
• Ini 6 Zodiak yang Paling Hemat, Tak Suka Menghamburkan Uang untuk Hal-hal yang Tidak Penting
• Luna Maya Bangun Rumah dan Penginapan di Bali
Itu sebabnya, DM harus segera diwaspadai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/diabetes_20151221_213205.jpg)