Corona di Amerika Serikat

Trump Tandatangani Perintah Turunkan Harga Obat, 1.000 Kematian terjadi 4 Hari Berturut-turut di AS

Kami sudah mulai melihat lonjakan yang kemudian stagnan di empat negara bagian yang telah terpukul parah sejak empat pekan terakhir

Editor: Kambali
REUTERS/Callaghan O'Hare/nz/cfo
Tenaga kesehatan berjalan melewati Texas Medical Center saat pertukaran jam kerja saat lonjakan penyakit virus korona (COVID-19) di Houston, Texas, Amerika Serikat, Rabu (8/7/2020). 

TRIBUN-BALI.COM, WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pada Jumat (24/07/2020) bahwa dia menandatangani empat perintah eksekutif yang bertujuan untuk menurunkan harga obat resep.

Perintah tersebut keluar di saat Trump menghadapi kritik atas penanganan pandemi Covid-19 dan persaingan sengit dalam Pemilu mendatang.

Perintah pertama akan memungkinkan untuk impor resmi obat resep yang lebih murah dari negara-negara seperti Kanada.

Perintah kedua terkait diskon dari perusahaan obat untuk diteruskan ke pasien, kata Trump.

Mantan Bintang Porno Mia Khalifa Menulis Ancaman untuk Presiden Donald Trump

Kemudian, perintah yang lain untuk menurunkan biaya insulin.

Sementara yang keempat, jika pembicaraan dengan perusahaan obat berhasil, akan mengharuskan Medicare untuk membeli obat dengan harga yang sama dengan yang dibayar oleh negara lain, kata Trump seperti dilansir Antara.

Pimpinan perusahaan obat terkemuka telah meminta pertemuan untuk membahas bagaimana mereka dapat menurunkan harga obat, presiden menambahkan.

Anggap Flu Biasa hingga Salahkan Obama, Sederet Pernyataan Kontroversial Donald Trump Soal Corona

Trump, yang dikritik karena melonjaknya kasus COVID-19 di Amerika Serikat dan dilanda penurunan jumlah jajak pendapat menjelang pemilihan 3 November, sebelumnya meminta Kongres untuk mengendalikan biaya obat-obatan.

Pembuat obat sering menegosiasikan potongan harga atau diskon pada daftar harga mereka dengan imbalan perawatan yang menguntungkan dari perusahaan asuransi dan pembayar layanan kesehatan lainnya.

Akibatnya, perusahaan asuransi dan pasien yang ditanggung jarang membayar harga penuh dari obat.

Amerika Serikat mencatatkan lebih dari 1.000 kasus kematian akibat Covid-19 selama empat hari berturut-turut hingga Jumat (24/07/2020).

Presiden AS Donald Trump Bersumpah Tak akan Wajibkan Warganya Pakai Masker, Warganya Bebas Memilih

Sementara kasus infeksi bertambah setidaknya 68.800 dalam sehari sehingga jumlahnya kini mencapai 4 juta kasus.

Tak kurang dari 1.019 kematian terkonfirmasi dari seluruh AS pada Jumat, menyusul angka kematian yang mirip pada Kamis (23/7) sebanyak 1.140 kasus, Rabu (22/7) 1.135 kasus, dan Selasa (21/7) 1.141 kasus.

Angka itu didapat kebanyakan dari terjadinya lonjakan kasus infeksi di Arizona, California, Florida, dan Texas.

Keponakan Donald Trump Minta Pamannya Mundur, Ungkap Ketegangan yang Terjadi di Keluarganya

Walaupun demikian, penasihat Gedung Putih untuk urusan pandemi, dokter Deborah Birx, menyebut dirinya justru melihat tanda bahwa bagian terburuk dari wabah COVID-19 di negara bagian selatan dan barat AS itu akan segera dilalui.

"Kami sudah mulai melihat lonjakan yang kemudian stagnan di empat negara bagian yang telah terpukul parah sejak empat pekan terakhir," ujar Birx dalam sebuah wawancara dengan media NBC seperti dilansir Antara.

Birx berkomentar demikian seiring dengan otoritas federal untuk urusan kesehatan dan juga pendidikan yang menekankan perlunya instruksi untuk anak-anak kembali ke sekolah.

17 Negara Bagian Gugat Aturan Trump yang Suruh Pelajar Asing Tinggalkan Amerika Serikat

Terkait hal itu, publik Amerika dan para pemimpin mereka terpecah pendapat.

Birx mengatakan bahwa anak di bawah usia 18 tahun biasanya tidak lebih rentan terhadap COVID-19 jika dibandingkan orang dewasa, namun menyebut seberapa siap anak di bawah 10 tahun dapat menyebarkan virus sebagai hal yang masih dapat diperdebatkan.

Presiden Donald Trump sendiri mendorong pembukaan kembali sekolah-sekolah, dengan menyebutnya sangat penting bagi kondisi mental dan emosional anak-anak serta kemampuan orang tua mereka untuk kembali bekerja. (*)

Kekayaan Donald Trump Lenyap Rp 14,5 triliun di Masa Pandemi, Apa Saja Bisnis Presiden AS Ini?

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved