Idul Adha Tahun 2020

Kurangi Penggunaan Plastik, Besek Jadi Wadah Daging Kurban di Bali

Wakil Ketua DPW LDII Provinsi Bali, H. Hardilan mengatakan bahwa pihaknya tetap konsisten tidak menggunakan kantong plastik sebagai tempat daging

Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana
Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Bali menggunakan besek sebagai tempat daging hewan kurban. Penggunaan besek ini sebagai upaya untuk mengurangi timbulan sampah plastik sekali pakai. 

Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sebagai upaya dalam mengurangi timbulnya sampah plastik, penggunaan besek masih pilihan untuk wadah daging kurban di Bali.

Hal ini pun diterapkan oleh Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Bali.

Wakil Ketua DPW LDII Provinsi Bali, H. Hardilan mengatakan bahwa pihaknya tetap konsisten tidak menggunakan kantong plastik sebagai tempat daging kurban.

"Daging kurban dimasukkan atau ditempatkan di dalam besek atau tempat yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk persegi empat," jelasnya dalam siaran persnya yang diterima Tribun Bali, Jum'at (31/7/2020).

Latihan Bali United 3 Agustus 2020 Tak Bisa Ditonton Masyarakat Umum, Ini Alasannya

Pemilik Travel Agent Ini Usul Pemerintah Tak Pakai Swab & Rapid Test untuk Syarat Wisman Masuk Bali

Mulai Besok, Objek Wisata Taman Ayun dan Semua DTW di Badung Akan Pungut Restribusi

Menurutnya, penggunaan besek ini sebagai wujud nyata DPW LDII Provinsi Bali dalam upaya meminimalisir kerusakan lingkungan dari bahaya sampah plastik.

Apalagi secara regulasi, hal tersebut telah diatur dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 97 tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai.

Regulasi serupa juga diatur dalam Peraturan Wali Kota (Perwali) Denpasar Nomor 36 tahun 2018 tentang Pengurangan Kantong Plastik.

Penggunaan besek sebagai tempat daging kurban juga dilakukan oleh Dompet Sosial Madani (DSM).

 Lembaga filantropi dari Bali itu menggunakan besek selain agar lebih ramah lingkungan, juga sebagai upaya mendukung keberadaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Manager DSM, Nur Sholeh, mengatakan, penggunaan besek tersebut bahkan sudah berlangsung sejak empat tahun lalu dan sempat diliput oleh media nasional. DSM menginisiasi penggunaan besek karena juga mempunyai konsentrasi dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan.

"Meskipun belum bisa lepas total (dari penggunaan plastik), minimal sudah meminimalisir," kata dia.

Ia mengatakan, pihaknya sudah sempat mencoba membedakan pemakaian kantong plastik dengan besek.

Jika menggunakan besek, udara masih bisa masuk dan memperpanjang masa simpan daging hangat yang masih segar.

"Kalau daging anget itu langsung masuk kresek, itu waktunya pendek. Tapi kalau masuk besek, besek itu tembus anginnya, diisiin daun, itu lama, sampai delapan jam enggak ada masalah. Jadi cukup lebih lama," jelas Nur Sholeh saat ditemui di Rumah Bakat Anak (RBA) DSM, Denpasar.

Merayakan Idul Adha, DSM Laksanakan Pemotongan Hewan Kurban di Berbagai Titik Hingga ke Luar Bali

Raja Salman Sudah Tinggalkan Rumah Sakit Setelah Opperasi Kantong Empedu

Penangkapan Harun Masiku Tinggal Tunggu Waktu, Bakal Ikuti Jejak Djoko Tjandra

Hal yang sama juga pihaknya terapkan jika membagikan sembako kepada masyarakat.

Bahkan dalam pembagian sembako pihaknya tidak memberikan mie instan kepada masyarakat sebagai upaya pemenuhan gizi yang lebih baik.

Terkait penggunaan besek ini, Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Made Teja mengapresiasi para lembaga yang sudah mengurangi penggunaan sampah plastik untuk wadah daging kurban.

"Sangat baik sekali sesuai arahan Kementerian KLH dan menindaklanjuti pelaksanaan Pergub 97 tahun 2018," kata Teja saat dihubungi via pesan singkat WhatsApp. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved