Penembakan di Badung
Sidang Kasus Penembakan WNA Australia di Bali, 3 Terdakwa Kompak Bungkam Soal ‘Aktor Intelektual’
Mevlut bahkan mengaku terkejut saat mengetahui pistol yang disediakan di lokasi sudah dalam kondisi terisi amunisi tajam,
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Misteri di balik kasus penembakan yang menewaskan warga negara Australia, Zivan Radmanovic, di Vila Casa Santisya mulai terungkap.
Dalam sidang pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Senin 5 Januari 2026, terungkap bahwa aksi brutal ini bukan sekadar kriminalitas biasa.
Melainkan operasi terencana yang dikendalikan oleh sosok "aktor intelektual".
Meski duduk di kursi pesakitan, para terdakwa Coskun Mevlut, Paea-i-Middlemore Tupou, dan Darcy Francesco Jenson tampak kompak menyimpan satu rahasia besar siapa pemberi perintah sebenarnya.
Baca juga: Penembakan WN Australia di Bali Masuki Babak Baru, Hasil Tes DNA di Mobil Terbukti Identik
Dalam persidangan, terungkap bahwa seluruh instruksi mulai dari koordinasi target, lokasi senjata api, hingga teknis eksekusi dilakukan melalui aplikasi pesan terenkripsi, Threema.
Tidak tanggung-tanggung, terdapat tiga grup berbeda yang digunakan untuk mengatur pergerakan mereka.
“Ada seseorang yang mengatur semuanya. Tapi saya takut menyebut namanya, demi keselamatan keluarga saya,” aku Tupou di hadapan Majelis Hakim.
Ketakutan tersebut menjadi benang merah yang menghalangi terungkapnya sosok aktor intelektual.
Mevlut bahkan mengaku terkejut saat mengetahui pistol yang disediakan di lokasi sudah dalam kondisi terisi amunisi tajam, padahal instruksi awal hanyalah untuk "menakuti" korban terkait penagihan utang.
Fakta memilukan mencuat saat Tupou memberikan kesaksian. Ia mengaku melepaskan tembakan karena panik saat melihat seseorang berlari ke arahnya. Ironisnya, orang yang ia tembak hingga tewas adalah Zivan Radmanovic, bukan Sanar Ghanim yang merupakan target utama penagihan utang tersebut.
“Saya tidak tahu akan membunuh dia (Zivan). Saya kira dia adalah Sanar,” sesalnya.
Di sisi lain, motif ekonomi menjadi penggerak utama Coskun Mevlut.
Pria ini mengaku nekat terbang ke Bali dan melakukan aksi kekerasan karena tergiur janji uang yang rencananya akan digunakan sebagai modal menikah.
Namun, janji manis itu berubah menjadi mimpi buruk. Mevlut menceritakan bagaimana ia memburu Sanar Ghanim hingga ke kamar mandi, menembak pintu kaca shower (kamar mandi) hingga berlubang, dan memberikan "peringatan" terakhir dalam jarak satu meter sebelum akhirnya melarikan diri ke Jakarta.
Fakta-fakta yang terungkap dalam sidang ini bahwa seluruh biaya perjalanan dari Malaysia, Jakarta, Surabaya, hingga akomodasi vila mewah di Bali ditanggung oleh terdakwa Darcy Francesco Jenson.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Sidang-dengan-agenda-keterangan-saksi-penembakan-WNA-Australia-12.jpg)