Laporan Kematian Babi di Bangli Menurun Sejak Pertengahan Mei 2020
Sempat diguncang virus Asian Swine Fever (ASF), kematian babi mendadak di Bangli, Bali dikabarkan telah berakhir
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Sempat diguncang virus Asian Swine Fever (ASF), kematian babi mendadak di Bangli, Bali dikabarkan telah berakhir.
Kendati demikian, sejumlah peternak hingga kini belum memulai kembali memelihara babi.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Bangli, I Wayan Sarma menjelaskan, kematian babi di Bangli mulai diketahui sejak pertengahan bulan Januari 2020.
Dimana kasus tertinggi diketahui terjadi pada bulan Februari hingga April.
• Badung Mulai Rancang Pembangunan Dua SMP dengan Anggaran Rp 52 Miliar di Tahun 2021
• Semua Fraksi Setuju Ranperda LKPJ APBD Karangasem Disahkan Jadi Perda
• Polemik Direksi dan Komisaris BUMN Berbuntut Kritik, Beberapa Tokoh Berikan Tanggapan Ini
“Dikatakan tertinggi karena kasus kematian babi mencapai belasan ekor per hari dengan gejala yang mengarah kepada virus ASF,” ucapnya Minggu (2/8/2020).
Sarma tidak menampik jika kasus kematian babi hingga kini masih tetap terjadi.
Walau demikian, khusus untuk kematian yang mengarah pada gejala virus ASF, pihaknya sudah tidak lagi menerima laporan.
“Kami tidak hanya menunggu laporan. Beberapa petugas kesehatan hewan yang memang mengetahui adanya kasus kematian babi, dan belum dilaporkan sudah langsung mendatangi lokasi. Namun untuk kematian yang mengarah ke ASF memang bisa dikatakan nihil,” katanya.
Menurut Sarma, turunnya kasus kematian babi yang terpapar ASF dipengaruhi beberapa faktor.
Diantaranya populasi babi yang memang mulai menurun akibat kematian, serta konsumsi babi yang mulai meningkat.
Disamping juga, imbuh Sarma, turunnya kasus kematian babi juga diakibatkan intensitas penyemprotan desinfektan oleh warga berkaitan dengan pandemi Covid-19.
“Itu mungkin juga berpengaruh, karena penyebabnya sama-sama virus. Desinfektan yang digunakan untuk penyemprotan juga sama. Terlebih ketika terjadi peningkatan kasus Covid di Bangli, kegiatan lalu lintas baik orang maupun barang juga tergolong kecil,” ujarnya.
Sarma mengatakan, secara angka pihaknya belum bisa menghitung berapa jumlah penurunan populasi babi akibat merebaknya virus ASF.
Namun ia memastikan jika jumlah populasi babi mengalami penurunan.
Hal ini diakibatkan tidak banyak warga yang menambah populasi babi terkecuali mereka yang masih memiliki indukan.