Penyuluh Bahasa Bali Lakukan Konservasi Lontar di Payangan Gianyar

Sebanyak 41 buah lontar di rumah warga di Banjar Pengaji Payangan yang sebelumnya terabaikan, saat ini telah dirawat oleh Peyuluh Bahasa Bali

Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Irma Budiarti
Penyuluh Bahiasa Bali
Penyuluh Bahasa Bali Kecamatan Payangan melakuka kegiatan konservasi lontar di Banjar Pengaji, Desa Melinggih, Payangan, Gianyar, Bali, Senin (28/9/2020). 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Sebanyak 41 buah lontar di rumah warga di Banjar Pengaji, Desa Melinggih, Payangan, Gianyar, Bali, yang sebelumnya terabaikan, saat ini telah dirawat oleh Peyuluh Bahasa Bali Kecamatan Payangan.

Dari 41 buah lontar tersebut, sebagian besar terdiri dari wariga (ilmu tentang hari baik) dan usdha (pengobatan tradisional).

Penyuluh Bahasa Bali Kecamatan Payangan, I Wayan Suarmaja, Senin (28/9/2020), mengatakan, kegiatan konservasi 41 buah lontar ini, dilakukan karena pihaknya prihatin melihat kondisi lontar yang tidak terawat.

Bahkan beberapa di antaraya sudah ada yang rusak.

Hal itu dikarenakan, tiga generasi penerus pemilik lontar ini tidak ada satupun yang menekuni bidang profesi sesuai dalam lontar yang diwariskan leluhurnya.

Bangun Museum Pustaka Lontar, Desa Adat Dukuh Penaban Mendapat Penganugerahan MURI

108 Cakep Koleksi Lontar Sudah Didigitalisasi di Museum Lontar Dukuh Penaban Karangasem

Penyuluh Identifikasi Lebih dari 800 Lontar di Klungkung, Mulai Lontar Pengobatan Hingga Ilmu Hitam

 “Total jumlah lontar yang dikoleksi itu ada 41 cakep, dengan beberapa embatan-embatan yang sudah rusak,” ujarnya.

Suarmaja yang juga Koordinator Penyuluh Bahasa Bali tingkat provinsi itu, memaparkan isi lontar kebanyakan tentang wariga.

Mulai dari mengarah ke pebayuhan oton hingga tenung paweton.

Selain itu, lanjut dia, terdapat juga lontar yang berkaitan dengan usadha.

Pihaknya bersyukur, meskipun selama tiga generasi lontar ini tidak dimanfaatkan, namun pihak keluarga masih mau menyimpannya dengan baik.

“Karena jumlah nasker cukup banyak, sehingga pemeliharaan lontar ini kami rencanakan dua kali. Hal ini juga dikarenakan pandemi, sehingga jumlah tim yang turun terbatas. Saat melakukan perawatan naskah kami hanya turun bersama delapan orang, dan semua menggunakan protokol kesehatan,” ujarnya.

Penyuluh Bahasa Bali Klungkung Identifikasi 800 Lontar, Mulai Lontar Pengobatan Hingga Ilmu Hitam

Tahun Ini Ditemukan 79 Lontar, 530 Cakep Lontar di Jembrana Di konservasi Sejak 2017

Penyuluh Bahasa Bali di Karangasem Gelar Konservasi Lontar,Ada yang Berusia 60 Tahun & Dimakan Rayap

Lebih lanjut diugkapkannya, selama pandemi Covid-19 ini, kegiatan yang dilakukan tidak bisa maksimal.

Terutama dalam perawatan lontar ke lapangan secara langsung.

Hal ini dikarenakan dibatasi prosedur dan protokol kesehatan.

Karena itu, kegiatan yang dilakukan lebih banyak bersifat pemberian materi atau pemahaman terkait Bahasa Bali melalui media sosial dan pembahasan secara virtual.

“Selama pandemi, kegiatan kita juga tidak bisa maksimal. Karena ruang gerak terbatas,” ungkapnya.

(*) 

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved