Corona di Indonesia
Tim Pakar Satgas: Bukan Kutukan, Jangan Kucilkan Pasien Covid-19
"Stigma seperti itu harus kita hilangkan. Jangan jauhi atau mengucilkan pasien positif. Covid-19 adalah penyakit, bukan kutukan," tutur dia.
TRIBUN-BALI.COM - Anggota Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Turro Wongkaren mengimbau agar masyarakat tidak memberikan stigma kepada setiap individu yang terpapar Covid-19.
"Jadi yang pertama kali harus kita tekankan adalah Covid-19 ini bukan kutukan.
Jadi orang yang kena Covid-19 itu bukan karena dia dosanya besar atau segala macam," ujar Turro dalam gelar wicara yang ditayangkan kanal YouTube BNPB, Kamis (1/10/2020).
"Stigma seperti itu harus kita hilangkan. Jangan jauhi atau mengucilkan pasien positif. Covid-19 adalah penyakit, bukan kutukan," tutur dia.
• Cegah Klaster Baru Tempat Kerja, 3 Mahasiswa ITS Ciptakan Alat Deteksi Corona di Lingkungan Industri
• Menteri Terawan Sebut Tenaga Medis dan Pekerja Berusia 18-59 Tahun Dapat Prioritas Vaksin Covid-19
• Bawaslu Temukan 303 WNA Masuk Daftar Pemilih Sementara di Enam Pilkada se-Bali
Turro pun mengingatkan, Covid-19 dapat menular kepada siapa saja yang tidak mematuhi protokol kesehatan dengan baik.
Apabila seseorang telah positif terpapar, ada pula rangkaian protokol kesehatan pada saat berinteraksi dengan orang tersebut.
"Namun, di saat bersamaan kita perlu ingat bahwa sebagai sesama manusia, pasien positif Covid-19 tetap butuh support," kata dia.
Turro mengajak masyarakat berempati terhadap kondisi pasien yang positif terpapar Covid-19.
"Bayangkan kalau kita sakit, lalu kita kesulitan dapatkan makanan. Lalu keluarga kita tidak boleh keluar. Maka apa yang terjadi pada kita?" ungkap Turro.
Berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada 7-14 September 2020 terhadap 90.967 responden, masih ada tujuh persen masyarakat yang mengucilkan atau memberikan stigma kepada penderita Covid-19.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, temuan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Sebab kasus-kasus penolakan masih terjadi di lapangan.
"Tentunya ini tak bisa dibiarkan saja. Misalnya ada kasus pegawai BPS. Dia positif Covid-19 dan masuk RSD Wisma Atlet Kemayoran," tutur Suhariyanto.
"Kemudian setelah dinyatakan negatif Covid-19 dan pulang, lalu di kosannya ditolak sehingga kita harus carikan tempat tinggal baru," lanjutnya.
• Update Covid-19 Bali, 1 Oktober: Kasus Positif Bertambah 141 Orang, 122 Pasien Sembuh & 3 Meninggal
• Timnas U-19 Lanjutkan Pemusatan Latihan di Kroasia, Kini Fokus Kekuatan Fisik
• Ramalan Zodiak Besok 2 Oktober 2020, Pelajaran Berharga untuk Cancer, Taurus Bebas
Merujuk hal ini, dia menyarankan ke depannya ada sosialisasi yang lebih gencar kepada masyarakat tentang Covid-19.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-pasien-covid-19.jpg)